Minggu, 10 Februari 2013

Cerpen Belum Jadi!



Cahaya matahari masih tersipu malu menampakkan keindahnnya dari balik awan. Butir-butir air pun setia menyelimuti dedaunan di sekitar ku. Hujan semalam terasa menyisakan dingin yang memaksa untuk merapatkan jaket yang ku kenakan. Aku terduduk di anak tangga sekolah menyaksikan lalu-lalang para pelajar berseragam. Sesaat, sinar mentari memantulkan bayangan hitam dari sosok yang sangat aku kenal. Dan sebenarnya  aku tunggu sedari tadi. Aku menelan ludah dan segera memalingkan perhatian ke arah yang lain.
“selamat pagi,” suara yang terdengar ramah tiba-tiba mengusik pendengaran ku.
“selamat pagi,” balasku dengan senyum hangat dan anggukan kecil. Dia tersenyum dan berlalu. Aku menggigit bibir. Tuhan, kali ini dia pasti tersenyum untuk ku. Ya, hanya untuk ku. Setelah agak lama, aku pun bergegas masuk kelas. Dengan hati berbunga-bunga tentunya.
                                                                ^^v
“Vian!” seseorang memanggilnya dari arah bawah. Yang dipanggil segera menyahut dan menghilang. Pandangan ku pun berpaling dari sosok yang bernama Vian, begitulah teman-teman memanggilnya. Dia seorang peramah. Dan menurut ku, seorang pengacau dan berkepribadian ‘ganda’, maksud ku, bagaimana mungkin dia bersikap layaknya seorang pengacau tapi di sisi yang berbeda dia menjadi seseorang yang bijaksana. Aneh!
Aku jadi teringat peristiwa mengejutkan beberapa bulan yang lalu. Ketika tiba-tiba dia memberikan aku sebungkus coklat karamel. Tidak ada yang aneh dengan itu, hanya dia memberikan aku sementara aku tidak mengenalnya sama sekali. Mungkin karena aku terlalu kuper dan jarang keluar kelas.
“hey, ini buat kamu!” kata nya saat itu, sambil menyodorkan sebuah kotak terbungkus rapi. Aku bingung dan kaget. Siapa dia? Tanya ku dalam hati. Bergantian, ku tatap bungkusan itu dan wajahnya.
“ini ambil!” katanya memaksa. Aku semakin bingung dan mengernyitkan kening.
“maaf, tapi ini apa dan kenapa kamu memberinya kepadaku?”, tanyaku hati-hati, “atau mungkin kau salah orang kalii,”
Dia tersenyum dan meraih tangan ku, “sudah, ambil saja! Anggap ini kado perkenalan.” Lalu dia berlalu meninggalkan ku dengan sejuta tanya yang tidak sempat terucap. Sejak saat itu, aku jadi sedikit mengenalnya. Vian, si pemberi coklat karamel.
                                                                                ^^v

*Bersambung sampai ada inspirasi buat menyambung nya  -____-

Jumat, 08 Februari 2013

Laksana Lampu-Lampu Kota Paris dan Sunset Bali!



Aku baru sadar kalo di depan rumah ku ada pemandangan yang sangat menakjubkan (lebay -_-). Ketika matahari hendak terbenam di ufuk barat, maka cahaya senja akan terlihat disana. Hmm, serasa ada di Pantai Kuta saja XD dan ketika malam datang, lampu-lampu dari pemukiman seberang memperlihatkan pemandangan itu bagaikan di Paris dengan kerlap-kerlip lampu nya. Pokoknya indah sekali lah…

Pertama aku mendapati pemandangan senja itu ketika aku naik ke atas rumah ku untuk belajar, pas magrib aku melihat pemandangan di sawah dengan pantulan sinar jingga. Kereeeen.. makanya aku sering nongkrong disitu. Trus pernah suatu malam di bulan Ramadhan, waktu aku pulang sholat tarwih, aku berjalan ke rumah dan tiba-tiba melihat pemandangan lampu-lampu yang terang di gelap nya malam. Cantik banget deh..

Adaa saja sesuatu biasa banget yang bisa buat kita merasa senang. Contohnya itu tadi. Pemandangan yang indah di sore dan malam hari. Di siang hari juga indah kok, akan tampak persawahan yang menurut ku bisa dijadikan objek lukis. Kereen deh… Subhanallah, Yang Maha Menciptakan memang luar biasa hebat ^^

Selasa, 05 Februari 2013

Setengah Cerpen pun Nggak!



“Kriik.. Kriik.. Kriik”
Suara binatang malam saat itu membuat kamar Dika yang sunyi menjadi ramai sesaat. Dingin pun tak berhenti menyapa membuat matanya sayup-sayup. Sesekali Dika menatap keluar jendela, lalu tangannya menari di atas kertas dengan lancarnya. Namun, keningnya tiba-tiba mengernyit. Diremasnya kertas yang tadi dan dimasukkan ke dalam silinder besar berwarna hitam di sudut kamarnya. Keningnya mengernyit lagi. Pulpen yang digunakannya ternyata sudah mendarat di atas telinganya. Persis seorang komikus. Pintu tiba-tiba berdecit. Seorang gadis pun masuk ke dalam kamar Dika dengan tersenyum.
“Ketuk dulu kenapa?” ucap Dika tanpa mengalihkan pandangan dari secarik kertas.
“Kakak judes iih. Hmm, maaf deh. Dipanggil mama tuh. Makan malam udah siap. Yok!”
“Kamu duluan aja,” Dika mulai memainkan pulpen nya di atas kertas lain.
“Hayooo, buat lagu lagi kan kak?” si gadis malah tertawa kecil.
“Sssttt! Berisik! Udah sana, ntar kakak nyusul!” Dika pun melangkahkan kaki menuju gadis itu, lalu menutup pintu. Pikirannya tak lepas dari kata dan irama yang sedari tadi membuatnya agak kebingungan. Tentu saja. Kali ini ia ingin membuat lagu untuk band nya. Tapi entah kenapa dia sangat bingung menentukan liriknya, sangat bingung. Setelah setengah bait dibuat, dihapusnya lagi. Begitu seterusnya. Nggak sreg! Batinnya.

*Bersambung entah sampai kapan  -___-

Jumat, 01 Februari 2013

Broadcaster? Teknisi?



Ini cerita lanjutan waktu aku dengan abal nya tidak jadi mengambil formulir ukm nyiar di kampus ku. nah, ternyata Allah masih memberiku kesempatan untuk mencoba ini. Thank you so much Rabb :’) aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini, apa pun yang terjadi, apa pun alasannya. Yaah, aku tau, kesempatan ini lebih berat dari kesempatan pertama, karena faktor-faktor yang dapat menjerumuskan ku ke jurang ketidakberhasilan semakin bertambah. Ujian ku di kesempatan kali ini jauh lebih berat. Uft..

Aku tidak hanya akan menghadapi senior-senior disana yang nota bene bakal membuat ku berpikir dua kali mengadakan transaksi dengan mereka. Ini baru ambil formulir lho. Belum yang embel-embel nya. Ditambah aku juga banyak teman seangkatan yang masuk disitu, otomatis aku akan bertemu mereka, yang rencana nya aku ingin masuk diam-diam di ukm itu. belum juga teman-teman ku banyak banget yang minat kesitu, selain saingan bertambah, aku juga bakal malu banget ikutan itu. aku nggak pede meeen.

Nah, nggak Cuma itu. bidang yang ingin aku geluti juga ternyata terbagi. Awalnya kan aku Cuma mikir broadcaster. Tapi setelah ku pikir-pikir, kemampuan ku seperti nya tidak mencukupi syarat broadcaster itu, soalnya aku gitu lho, kayak gambar nggak ada suara. Ckckck kalo aku siaran gimana tuh yaa.. kaya nya yang kedengaran Cuma kresek-kresek. Huuh.. akhirnya aku berpikir untuk beralih jadi teknisi nya saja. Menurut pengertian ku, teknisi disini berperan sebagai operator itu lho yang manage soal siaran. Duuuuuh keren banget.. tapi belum tentu, aku mau cari info dulu, teknisi itu seperti apa sih?

Ntar deh dilihat, apakah aku benar-benar berhasil melewati semua rintangan itu? ya, aku yakin <= buat ngehibur diri. (yang baca bilang aamiin dong! Aamiin). Pokoknya do the best dulu lah yaa, semoga one of my big dream ini bakal come true. Aamiin! Aamiin! Aamiin! Kabulkan lah Rabb biar aku tidak galau lagi :’) aamiin 1000000x!

Pertemuan Singkat!



Aku tidak mengerti mengapa kami dipertemukan hingga pertemuan kami terbilang begitu singkat. Kami belum sempat saling mengenal satu sama lain. Menyapa nya pun aku tidak sempat, begitu juga dia. Sering nya, kami hanya saling melihat. Aku yakin kami sudah saling mengenal muka masing-masing.

“mel, ada dia!” teriak sahabat ku. Sontak aku menoleh ke arah yang dimaksud. Ternyata DIA. Kami dipertemukan lagi. Sebelumnya kami pernah bertemu, dan saat itu lah aku pertama kali melihatnya. Sejak saat itu, dia menjadi trending topic pada obrolan ku bersama sahabat ku. Aku juga tahu, sahabat ku itu menjadi anak yang sabar jika aku menceritakan tentang dia lagi dia lagi.

Aku senang sekali waktu itu karena kami bertemu lagi. Aku hampir setiap hari melihatnya. Sekaligus hampir setiap hari cari perhatian sama dia. Hehehe anak-anak memang gitu kok. Beneran lho, aku masih anak-anak, jadi masih belum centil kok :p

Di hari-hari yang penuh bunga-bunga bagi ku itu, kami tidak pernah bertegur sapa. kami tidak saling tahu nama, ceritanya kan. Tapi nyatanya aku tahu namanya, karena aku mencari tahu. Setiap hari aku selalu menunggu untuk bertemu dengan nya, hmm, bukan bertemu tapi hanya melihatnya. Dia memiliki wajah yang teduh seperti angin yang menyejukkan, itu menurut ku. Tapi bagi sahabat ku, dia biasa-biasa saja. Hehehe jelas banget kelebayan ku :p

Setiap bertemu, kami tampak saling cuek. tapi sebenarnya aku selalu perhatikan dia dari jauh. Dan aku yakin dia pun begitu. Meski tampak nya tidak, aku yakin dia penasaran dengan ku. Kami sudah sering tidak sengaja saling menatap, aku menatapnya, dia menatap ku. Lama kelamaan, dia menunjukkan betapa penasarannya dia dengan anak kecil yang menjadi secret admirer nya. Aku sering merasa dilihat oleh dia. Tanpa sengaja aku juga melihat dia berbalik untuk melihat ku. pernah suatu hari, aku sedang  berjalan sendirian, dan dia muncul dari belakang, lalu  jalan menyusul ku. setelah melewatiku, tiba-tiba dia berdehem. Lalu menjauh. Saat itu, aku sangat senang. Aku yakin ‘ehm’ itu mengartikan ‘hai!’. Iyya, aku yakin, karena saat itu kami hanya berdua. Dan dia berdehem terdengar sengaja. Huaaah, ternyata dia benar-benar memperhatikan ku.

Sampai sekarang aku masih tidak mengerti, mengapa aku harus bertemu dengan nya? Aku masih belum mengerti mengapa kami bertemu hanya dalam waktu yang singkat dan belum sempat berkenalan, pun saling menyapa?

Aku dan dia akhirnya terpisah oleh jarak yang tidak mungkin aku jangkau sebelum waktu ku. dia pergi dan aku tidak bisa berharap bisa dipertemukan lagi saat ini. Kami terpisah dunia. Aku selalu bertanya-tanya, sesingkat ini kah pertemuan kami? Tidak kah aku diizinkan untuk menyapa nya walau hanya sekali?
Tujuh tahun telah berlalu. Tapi wajah teduh nya masih jelas tergambar di benakku. Semoga dia baik di alam sana. Aamiin!