Minggu, 29 April 2012

Corat-coret masa lalu


Sungguh menyebalkan. Beginilah kalau kebanyakan main, tugas numpuk bikin stres. Tugas ini membuat ku puyeng setengah mati. Aku mesti kembali membuka buku pelajaran SMA ku.

Dengan lincahnya, aku membolak-balik susunan buku satu per satu di dalam lemari. Senyum ku tiba-tiba mengembang. Tumpukan catatan SMA ku ini tampak lucu, corat-coret di belakang nya seakan membawa ku ke masa-masa itu. Indah dan menyenangkan.

Sementara  membuka-buka lembaran buku Fisika, mataku sempat melirik ke sebuah buku berwarna kuning, bertulis ‘Diary 2005’. Aku menatapnya lama, lalu ku raih dengan rasa penasaraan. Apa yang ku tulis dalam  buku ini ya? Batin ku.

 Lembaran pertama:
 Kamis, 11 Agustus 2005. Di sekolah, saya disuruh membuat buku harian dan mulai saat ini dan di buku ini saya memulai buku harian ini.

Hati ku tergelitik membacanya. Ternyata catatan harian ku waktu SMP. Dari sini aku mulai berkenalan dengan yang namanya diary. Segala yang penting ataupun tidak penting sama sekali ku tuangkan dalam buku itu dengan rangkaian kata ala anak SMP. Buku yang manis, dengan spidol warna-warni disana-sini. Stiker-stiker kartun tak henti menarik perhatian ku. Hingga pada suatu lembaran. Lembaran yang paling ramai dari sebelumnya. Lebih berwarna, lebih banyak stiker.

Senin, 5 September 2005.

Ya, aku ingat betul hari itu. Hari dimana aku datang ke masjid dekat rumah ku untuk pengajian. Hari dimana aku pertama kali melihatnya. Hari dimana aku ingin sekali mengetahui namanya. Seorang lelaki berperawakan tinggi, tapi tidak terlalu kurus. Aku mengaguminya, setahu ku itu yang aku pikirkan waktu itu. Pemikiran murni anak SMP yang masih polos, baru saja tamat SD.

Hari-hari selanjutnya aku tidak memikirkannya lagi. Benar-benar pemikiran anak kecil yang masih lugu. Hingga suatu hari aku dipertemukan lagi dalam bulan Ramadhan, masih di tempat pertama kali aku melihatnya. Aku senang, sampai kadang aku sering tersenyum sendiri jika melihatnya. Hal ini aku utarakan kepada mereka yang menjadi sahabat ku. Mereka mendukung ku. Dan aku memanggilnya dengan nama ‘kakak’. Dia kakak ku. Aku tidak pernah bertegur sapa. Aku tidak pernah berbincang dengannya. Hanya sekedar bertemu dan saling melihat secara tidak sengaja.

Lembaran-lembaran buku diary itu aku buka perlahan-lahan.

Rabu, 30 November 2005. Eh, tau nggak. Hari ini aku dapat kabar gembir tentang kakak. Kabar ini dari adikku. Sudah 2 bulan aku mencari kabar tentang kakak. Tapi belum dapat-dapat. Sekarang aku sudah tahu nama kakak siapa. Jadi aku tidak lagi memanggilnya kakak. Tapi, namanya. Nama kakak yaitu A-R-I-S. Iya, namanya Aris. Cocok kan sama wajahnya. Sekarang aku bukan panggil dia kakak, tapi Aris, eh, maksud ku kak Aris. Dia kan lebih tua dari saya. Orang yang lebih tua dari saya akan saya panggil kak. ha...ha...ha... Kak Aris... Kak Aris...

Aku tersenyum lagi. Dasar aku! Kak Aris, kira-kira dimana kakak sekarang? Baik-baik kah kakak disana? Aaah, jika aku mengingat nya lagi, aku merasa kelopak mata ku ingin basah. Ku lanjutkan membuka-buka kenangan bersama Kak Aris. Pada lembaran berikutnya, tampak lebih tebal. Ada koran yang ku selipkan disitu. Koran tentang kakak kah? Hebat kakak masuk koran. Hmm...

Tunggu dulu, berita di koran itu. Berita yang menampar ku. Berita yang tak pernah bisa aku percaya. Kakak... pergi. Dia pergi. Dia pergi meninggalkan kenangan. Pergi ke suatu tempat. Dia akan hilang dari pandangan ku selamanya.

Minggu, 9 Juli 2006. Ri, malam ini aku sedih. Waktu aku lewat di depan lorong kakak banyak banget orang. Trus aku nanya sama orang disitu. Katanya ada yang kecelakaan. Untuk memastikan, aku nanya dia tinggal dimana? Orang itu nunjuk rumah kakak. Aah, masa kakak, aku gak percaya. Samar-samar aku dengar pembicaraan orang-orang disitu. Benar, dia kakak. Aku mulai agak yakin. Masa sih? Aku rada-rada nggak percaya yah. Tau ah. Aku juga belum yakin. Hahaha... tenang aja. eh, eh, aku nonton ADA band lagi lho. Si Donnie tuh penampilannya keren abis. Trus tambah cute dia. Lihat Donnie, aku jadi ingat kakak. Hmm, bagaimana kalo berita itu benar?

Yang benar saja. Koran itu adalah bukti. Aku sudah tahu alasan mengapa aku menempel koran tepat hari itu. supaya aku tidak ragu lagi. Supaya aku hanya bisa mengenangnya dan melanjutkan apa yang seharusnya tidak terhenti disini. kisah ku, bersamanya, harus terhenti disini. tapi aku harus melanjutkan kisah ini, dengan orang-orang baru. Dengan mereka. Mereka yang hadir bergantian, pergi brgantian. Tapi yang terakhir ini, aku tidak pernah berharap dia terganti, aku tidak pernah berharap dia juga menghilang tanpa jejak. Aku ingin dia menjadi penutup kisah ini. Pelengkap kisah yang tak sempurna ini.

Aku menyimpan kembali buku kuning penuh kenangan itu di tempat semula. Agak tersembunyi dari yang tadi, takut terlihat sewaktu-waktu dan aku berani membukanya dan terjebak lagi bersama bayangan yang telah ada disana.

Buku Fisika yang sedari tadi ku cari akhirnya ku temukan juga. Aku menuju meja belajar dan sesaat aku sudah terhanyut dalam soal-soal yang tak henti membuat ku garuk-garuk kepala. Bingung.

Sabtu, 28 April 2012

Mengapa Aku Menunggu Hari ini...?

Aku juga tidak mengerti, mengapa sampai aku menunggu hari ini sejak bulan lalu. Adakah moment spesial di hari ini? adakah yang menyenangkan hari ini?

Tidak Ada!

Aku hanya menunggu waktu yang tepat mengirimkan kalimat-kalimat yang telah ku susun rapi. Kalimat yang mewakili diriku mengucapkan sepatah kata atas hari bahagia mu di hari ini.
Menjadi yang pertama? Hmm, mungkin tidak. Aku sadar, aku bukanlah orang yang kau harapkan untuk menjadi yang pertama. Aku tidak ingin kau kecewa karena ego ku. Mungkin aku akan menjadi penyempurna saja, melengkapi kebahagiaan mu di hari ini. Menjadi yang terakhir. Bukan karena aku lupa, tapi aku tak ingin kau kecewa.

Mungkin akan ada banyak kejutan untukmu. Bukan dariku, tapi teman-teman mu, dan orang spesial bagimu. Hadiah terindah yang tidak pernah kau dapatkan sebelumnya. Hari ini kau akan bahagia, hmm.. sayang, tanpa aku ucapkan pun kau akan bahagia bersama mereka, bersama dia. Ingin sekali aku mengucapkan kalimat itu di hadapan mu. Memberikan hadiah terindah yang tidak akan pernah kau lupakan.
Mungkin untaian kata ini hanya bisa ku ungkap kan disini, di lembaran penuh keluh ini.

“Happy Birthday to You, Dear!”

Suatu saat nanti aku akan melihat mu menjadi seorang pemimpin yang baik...

Jumat, 27 April 2012

Mimpi itu. . .


Malam-malam yang penuh dengan kekecewaan dan pengharapan.  Aku menuliskan sesuatu dalam diary ku sebelum tidur. “Kau! Orang yang tega membuat aku bahagia dengan sandiwaramu. Kau tahu, aku telah kehilangan dia, seseorang yang telah hilang dari pandangan ku selamanya. Ku mohon jangan pergi sepertinya! Jangan hilang juga! Please!”

Lalu, aku tidur tanpa pernah tahu mimpi indah kah aku, atau kah... mimpi buruk. Memasuki alam itu, secercah harapan menikmati mimpi indah telah muncul. Ya, aku bermimpi indah. Dan tidur ku tersenyum, berharap senyum itu tak pernah hilang selamanya.

Namun, aku  terbangun.  Dari mimpi indah. Saat aku masih menatap mu di samping ku. Kau bicara, bercanda, lalu kau tersenyum, menunjukkan ketulusan, keikhlasan, dan kebahagiaan. Tak bisa aku berdusta  ketika aku berpikir ada sesuatu yang lain di dirimu, sayang.
Aku baru saja terbangun. Aku menyesal. Aku terus bertanya, mengapa aku terbangun di tengah mimpi indah itu? Aku sedang bahagia dengan mimpi itu, aku sedang menikmati kebahagiaan ku itu. Sampai tiba-tiba semua nya hilang. *Poof!*

Ternyata aku bermimpi! Aku mendapati diriku tergeletak di antara kesakitan dan kekecewaan itu saat terbangun. Sejenak aku tersadar kalau  aku tertidur. Aku  bermimpi  dan membiarkan kebahagiaan itu mengalir deras. Tidak peduli apa pun yang ikut mengalir bersama kami. Waktu kah, jarak kah, ataupun sesuatu lain yang mengusik. Aku tak sempat mempedulikannya. Aku terlalu sibuk dengan mu yang selalu  membuat ku tak punya alasan untuk pergi dari situ.


Aku kecewa karena aku terbangun. Aku tidak ingin terbangun.
Aku tidak ingin ada disini. Aku ingin di dunia mimpi saja.

Kamis, 19 April 2012

Aku Tidak Mengerti, Mengapa Aku Bahagia? (- -,)a

Keberanian ku tiba-tiba datang saat itu. Ku tawarkan kembang gula kepadamu, tapi kau menggeleng saja. Raut wajahmu  menampakkan tidak senang. Kenapa?  Tanyaku dalam hati. Mungkinkah kau tidak senang dengan pertemuan yang ‘sangat langka’ ini?  kau tidak tau betapa aku ingin menceritakan kepada semua orang  bahwa aku bahagia, menatap mu lagi, berbincang dengan mu lagi walau hanya sepatah kata. You don’t know dear!

Aku tidak mengerti ada apa dengan mu. Dalam perjalanan, aku mendengar beberapa kali kau berdehem. “Kau sakit?” tanya ku tanpa ragu. Kau menggeleng. Tapi aku tau kau sedang kurang sehat. Kenapa masih saja kau keras kepala? Apa yang kau tunjukkan sebenarnya?
Aku tidak ingin mengacaukan pertemuan yang mungkin akan sangat jarang terjadi. Mungkin setiap tahun hanya bertemu... Hmm... tidak lebih dari 10 kali. Sungguh miris :’( tapi aku akan tetap bertahan. Karena sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.

Gedung-gedung pertokoan, deretan rumah telah ku lewati. Menapaki jembatan layang, aku tersenyum sendiri. Ingin rasanya aku berkata kepadamu, bisakah kau berhenti sejenak? Pemandangan dari atas sini sangat indah. Tapi aku malah hanya bisa melihat beberapa orang yang mewujudkan harapanku tadi. Sayang sekali padahal. Roda-roda terus berjalan.

Moment yang sangat rumit untuk ku jelaskan dengan kata-kata. Hanya aku, kau, dan mereka yang tau. Memoar pertama kali yang ku harap menjadi awal sebuah perjalanan. Tapi aku masih tidak mengerti dengan sikapmu!

Pertama kali melihat mu (setelah beberapa bulan), kau lebih banyak diam. Aku heran, ini bukan dirimu. Kau itu... Kau itu... berbeda.. kau berubah. Kau kenapa? Adakah kesalahan ku yang menyebabkan tak ada kata dari mulutmu? Aku masih berpikir untuk menuggu kata-kata mu yang menyenangkan itu. Ayolah, ajaklah aku bercanda walaupun mungkin garing. Kemana dirimu? :’(

Aku tau kau tak pernah mau tau tentang sesuatu yang tidak aku mengerti. Aku memang susah dimengerti. Seperti kata mu waktu itu di depan mereka -_- tega sekali :’( kau kenapa? Sekali lagi aku bertanya.
Aku jadi teringat pertanyaan mu waktu itu, kau kenapa? Ada masalah apa? Coba cerita! Katamu sambil menaruh dagu di lipatan tangan mu. Dan aku hanya bisa terdiam di sampingmu. Kau peduli padaku? Hal itu saja yang aku pikirkan saat itu, sehingga aku lupa pertanyaanmu sebenarnya. Kau lalu mengulangi pertanyaan itu, kau kenapa? Ada masalah apa? Coba cerita! Sejenak, aku pun mulai bercerita tentang  unek-unek yang selama ini aku rasakan. Ya, kepadamu, kau ingat kan? Waktu kau menyuruhku untuk tidak memendam masalah. Aku senang. Aku bahagia. Karena kau menyadari itu. Ya, aku bahagia :’)

Selanjutnya, aku akan bertahan. Aku tidak akan mungkin melepaskan sesuatu yang membuat ku bahagia. Kebahagiaan yang akan selalu menciptakan senyuman, motivasi, dan... SEMANGAT.

Senin, 16 April 2012

Unidentified Story ┐(˘_˘)┌


Kisah yang tidak teridentifikasi. Kisah yang entah apa judul, apa genre, dan siapa tokohnya. Kisah yang beralur maju mundur. Berlatar hitam putih, seperti TV tempoe doeloe. Soundtracknya? Hmm, mungkin Cuma suara ‘kriik..kriik’ (jangkrik donk!). simak aja deh cerita super mini pendeknya. Semoga nangis yah┌(T˛T)┐

“Mil, tunggu bentar!” Suara itu membuat Mila menghentikan langkahnya yang tergesa-gesa. Jelas saja, suara itu lah yang ditunggu-tunggu Mila sedari tadi.
“kenapa?”
“aku pengen minta maaf soal kemaren. Maaf yah,” ucap si teman. Mila malah cengengesan.
“kok malah cengengesan?” mungkin karena heran jadinya si teman nanya.
“aaah, nggak San. Kamu tuh ya, emang kamu pikir aku marah gitu?”
“Yaaa, iyaa. Soalnya daritadi kamu cuek bebek,” si teman malah tertunduk.
“Ckckck.. Sandy.. Sandy.. ya udah, nggak apa. Lagian yang kemaren itu aku Cuma bercanda kok. Kamu sih, ngaku-ngaku yang macam-macam. Udah ah, aku mau pulang. Daaah San!” Mila berbinar-binar sambil melangkah meninggalkan Sandy hingga memanggilnya lagi.
“gini Mil, sebenarnya...” Sandy tidak melanjutkan kalimatnya. Menggantung. Hal yang tidak disukai Mila. Karena penasaran, Mila melanjutkan, “sebenarnya...?” lalu yang ditanya malah menggigit bibir.
“sebenarnya aku mau minta tolong ama kamu,”
Mila terdiam. Senyumnya yang seakan senang, segera berganti dengan bibir yang merata. “minta tolong apa?”
“Hmm, gini Mil. Aku rencananya pengen kasi kado buat seseorang. Yaaah, kamu tahu kan, aku tuh kayak gimana. Bingung banget aku cari kado nya, bantu yah! Please Mil, kamu kan teman ku yang paling baik, ya..? ya..?” Yang ditanya malah terdiam sejenak. Ada rasa sakit yang hinggap di lubuk hatinya. Sakit sekali yang dia rasa. Bukan asma, ataupun sakit jantung. Bukan. Tapi, sakit yang seperti sesak. Sakit seperti tersobek-sobek.
“Mil, bantuin yah?” Mila lalu tersenyum. “Iyya deh, emang mau kasih siapa sih?”
“Yaah, cewek gitu. Biasalah Mil, PDKT! Nggak ngerti sih kamu, makanya punya gebetan donk.”
Mila seakan ditampar. Ternyata selama ini kamu nggak nyadar yah, San. Ternyata... selama ini... Teman? Ya, kita Cuma teman. Nggak lebih.
“ya udah, ntar kita ke toko boneka aja yah. Nanti aku pilihkan yang paling bagus!”
“hehehe kamu tuh bisa aja. hmm, sebenarnya aku pengen minta tolong dibeliin sekalian dibungkusin. Kamu kan pasti tahu seleranya cewek kayak gimana, yaaah, minimal yang gambar Love-love gitu. Biar romantis!”
What? Love? Oh, aku jadi mengerti arah pembicaraan ini. tega sekali kau menjatuhkan ku. Aku, yang kau anggap hanya teman. Teman biasa. ya!
“ya udah, Mil. Aku percaya banget ama kamu. Please, tolong yah! Aku juga minta doa semoga berhasil deh rencana ku ini. oke bro?” tangan Sandy mengajak tos.
“nggak ah, tos aja tuh ama pohon. Ya udah deh. Nanti aku hubungin yah kalo udah jadi. Aku mau pulang.’
“aduuuuh Milaaaa. Kamu emang baek banget daaaah. Teman ku yang paling setia. Luph you daaaah. Hehehe keceplosan!”
Mila menatap Sandy dengan tampang  jijik. Lalu, meluruskan pandangannya kembali. Tapi, tampangnya berbeda. Wajahnya seakan kecewa. Karena pernyataan tadi mungkin. Dia bingung. Dia serba salah. Harus senang atau sedih. Senang karena ucapannya ‘Aku percaya banget ama kamu’, tapi harus menerima kenyataan kalau orang yang dia sukai ternyata menyukai orang lain. Dan sekarang apa? Mila harus memilihkan kado untuk orang yang disukai temannya itu. Sakit sekali. Tapi dengan senang hati, Mila pergi ke toko boneka dan membeli bantal berbentuk love berwarna merah hati. Cantik sekali. si cewek pasti suka, ucap Mila sambil tersenyum. :’)

  1. *Ckckckck... Kasian banget si Mila. Semoga nggak ada yang ngalamin deh haha :D

Kaca berlapis embun


Siapapun yang melihat dengan kaca yang berlapis embun pasti melihat apapun dengan tidak jelas. Ya, yang ku rasakan saat ini seperti itu juga. Tidak jelas. Aku sudah melakukan ini berkali-kali, menunggu sesuatu yang jelas-jelas tidak pantas lagi untuk aku tunggu. Menunggu pelangi di malam hari, tidak mungkin ada kan? Kecuali menunggu cahaya matahari di tengah rintik hujan, itu masih bisa dinanti kok.

Sebenarnya aku bingung, heran dengan keadaan yang aku tengah jalani. Tidak jelas! Aku butuh kejelasan! Tapi aku tidak berani menuntut kejelasan itu. Ada apa sebenarnya? Kenapa masih datang juga gerimis itu kalau matahari masih setia menyinari? Kalo hujan ya hujan aja!

Tolong berikan kejelasan yang real! Kejelasan yang bisa aku terima. Kamu itu emang selalu begitu. Datang begitu saja, pergi begitu juga. Pergi dengan ketidakjelasan. Kita memang masih kekanak-kanakan. Hahaha. Aku dan kau.

Mungkin aku yang agak bodoh. Membiarkan dia menari-nari saja di depan mata ku, membiarkannya bertingkah tanpa menegurnya, “ada apa ini?” malah aku terbawa tingkah nya. Hoooooh, apa maksud mu? Tolong lah jelaskan! Menunggu penjelasan dari ketidakjelasan. Menyakitkan! Sekaligus membahagiakan! Membahagiakan hati ini walau untuk sementara waktu.

Kau tahu, aku tidak pernah berhenti berjuang mempertahankan sesuatu yang membuat ku bahagia...

Catatan di Atas Petol : Sosok Kritis ku! Hihihi (^^,)V


Hari itu, macet total! Alhamdulillah nya aku juga tidak terlalu buru-buru, jadinya aku menikmati saja kemacetan yang terjadi itu. Menurut obrolan para pengendara yang tertangkap pendengaran ku, jalan macet disebabkan oleh mahasiswa yang lagi demo. What? Demo lagi? Asyik! hahaha :D
Demo menolak BBM naik katanya, hmm fenomena yang tak terelakkan lagi di saat-saat seperti ini. Hawa-hawa kritis pun mulai terasa di angkot yang ku tumpangi itu. "Aiih, mahasiswa ya seng a'demo," ucap salah satu supir petol dengan logatnya yang kental. "Tena maraeng na demoi punna teai pamarenta ya" supir petol lain menggubris. Setelah memperhatikan arah pembicaraan kedua supir petol tadi, aku jadi berpikir, "Balassi saya kalo naiki tarif petol ka!" Hahaha dasar abaal -,,-
Dimana-mana dibicarakan tentang isu itu, media cetak, media elektronik, sampai merambah ke social network. Bukan cuma mereka, tapi juga salah satu 'sosok kritis' ku kena sindrom itu. Ckckck dasar sosok kritis ku! Banyak sekali tulisan dan opini yang dibuatnya melalui media network. Huuuh, isinya sungguh kritis. Ya, aku tahu bagaimana dia, sosoknya yang kritis!  Senang sekali diriku dengan sosok seperti itu. Kritis!
Aku juga selalu jadi bahan kritisasi nya (kritisasi? benar gak sih?). Mulai dari kritik tentang style ku sampai tentang attitude. Hoalaah orang ini perlu di-kristalisasi, kayak virus aja dikristalkan. huu -,- tapi senang sekali jika aku dikritisi seperti itu.
Aku ingin seperti dia! Sosok kritis ku! Sosok yang selalu mengritik ku! Sosok yang tidak takut mengritik ku! Sosok kritis ku :)

Rabb, tolong hamba... please!

Bismillah...
Pertama, aku ingin mengucapkan ‘Alhamdulillah’ masih diberi kesempatan untuk bisa memutar otak menyusun kata demi kata dan bisa di tuangkan di blog ini. Aku sangat bersyukur dan tidak pernah berhenti berucap s yukur dan tidak akan lelah menaungkan syukur kepada-Nya. Dia, Ar-Rahman, Ar-Rahim. Maha Mendengar dan selalu menyayangi setiap hamba-Nya yang bertaqwa. Semoga rahmat-Nya selalu diberikan kepada kita semua. Amin Ya Rabb!
Menurut ku, masa-masa sekarang ini adalah masa-masa ‘kritis’ ku sebagai ‘seseorang’ dimana saja. Berkutat dengan masalah-masalah hidup yang kadang membuat ku berpikir untuk lari dari kenyataan. Tapi, itu hanya dilakukan oleh orang yang kurang kerjaan. Ya, kurang kerjaan. Maunya hanya lari, lari, dan lari.
Kau tahu, masa ‘kritis’ ku terbagi dalam berbagai fase. Fase pertama, suatu keadaan yang harus menghadapkan ku dengan segudang tugas kuliah yang tambah hari seperti mencari duri di antara sekian banyak pentul. Tugas yang sebenarnya nampak tapi agak sulit di dapatkan. #angkat tangan dengan hal ini. Di otak ku hanya sebuah pengharapan.
Rabb, hanya Engkau yang bisa menolong ku.
Fase kedua, kondisi yang mengharuskan ku menjadi seorang pembicara, atau tepatnya menjadi orang yang baru belajar to be a speaker. Mengingat diri ku yang not to be able in speaking, aku masih perlu banyak berlatih. Aku juga tidak mengerti dengan diriku, aku ini kenapa sih? Kok begitu susah bicara ya? Hmm, ternyata aku mengidap penyakit demam panggung. Iri sekali rasanya melihat mereka yang dengan fasihnya mengeluarkan pendapat. Sedangkan aku? Aku juga punya pendapat di setiap pertemuan, aku punya keinginan untuk mengemukakannya. Tapi, kenapa? Kenapa mulut ini selalu terkunci?
Rabb, hanya Engkau yang bisa menolong ku.
Fase ketiga, manajemen waktu yang selalu saja menjadi penghalang untuk bisa menjadi pribadi yang disiplin. Praktik prokastinasti merajalela di tiap waktu ku. Waktu istirahat dipakai bermain, waktu mengerjakan tugas dipakai istirahat. Nyambung dimana? Makanya, aku masih perlu memeras otak untuk bisa me-manage waktu yang sangat sayang jika tidak dimanfaatkan. Duh, bingung!
Rabb, hanya Engkau yang bisa menolong ku.
Fase keempat, pikiran-pikiran lain mulai bertebaran di setiap waktu, pikiran-pikiran selain kuliah, pikiran-pikiran untuk mewujudkan cita-cita yang tertunda (atau mungkin kurang kerjaan). Dilematis pun tak terhindarkan, dilema antara kemampuan dan UKM, antara UKM dan waktu, antara waktu senggang dan kuliah. Duh, benar-benar pusing memikirkannya. Ada kesempatan, tapi mengingat bermacam-macam dilema tersebut, aku masih harus berpikir untuk meraih kesempatan tersebut, sudah dua kali aku menyia-nyiakan kesempatan untuk mewujudkan impian ku, minat ku. Tapi, sepertinya minat dan kemampuan ku saling bertolak belakang. Sudah  dua kali kesempatan itu melayang-layang di pikiran ku, bahkan menari-nari di depan mata ku seakan-akan berkata, “ayoo ayoo ikuti aku! Kalau tidak, kau akan menyesal!” dan sepertinya benar apa yang dikatakan kesempatan itu. Sayang sekali. . .
Rabb, hanya Engkau yang bisa menolong ku.
Fase terakhir. Tentang lingkungan ku yang kini berubah. Maksud ku, lingkungan yang mungkin ku habiskan lebih banyak disitu dari lingkungan lainnya. Lingkungan yang setiap Senin sampai Jum’at aku lewati. Perkembangan lingkungan ini sangat menyiksaku sebagai seseorang yang tidak fleksibel. Aku (mungkin) masih lugu, masih seperti anak kecil. Aku ingin mengubah semua itu. Lebih dewasa, lebih bijak, lebih mengerti apa yang sebenarnya aku hadapi saat ini. Sekali lagi. . .
Rabb, hanya Engkau yang bisa menolong ku. Please!
Hari-hari ku dipenuhi masalah-masalah kehidupan seperti di atas. Aku takut masalah-masalah itu akan menambah satu masalah lagi. Masalah yang lebih fatal. Masalah yang lebih besar. Masalah ketika aku jauh dari-Nya dan tidak mendapat perhatian-Nya. Masalah ketika aku sering lupa kepada-Nya. Aku takut. Takut sekali. Di balik problem-problem tadi, Dia selalu saja, selalu saja, dan selalu saja menolongku, menghiburku, dan aku seperti mendapat petunjuk dari-Nya lewat hati. Setiap ku hadapi satu masalah, selalu aku mengharap-Nya, “Rabb, please, bantu hamba. Please! Ku mohon dengan sangat!”. Hati yang galau akan tenang, pikiran yang memuncah juga akan calm down.
Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah, tiada tempat ku berserah diri kecuali kepada Allah