Malam-malam
yang penuh dengan kekecewaan dan pengharapan.
Aku menuliskan sesuatu dalam diary ku sebelum tidur. “Kau! Orang yang
tega membuat aku bahagia dengan sandiwaramu. Kau tahu, aku telah kehilangan
dia, seseorang yang telah hilang dari pandangan ku selamanya. Ku mohon jangan
pergi sepertinya! Jangan hilang juga! Please!”
Lalu,
aku tidur tanpa pernah tahu mimpi indah kah aku, atau kah... mimpi buruk.
Memasuki alam itu, secercah harapan menikmati mimpi indah telah muncul. Ya, aku
bermimpi indah. Dan tidur ku tersenyum, berharap senyum itu tak pernah hilang
selamanya.
Namun,
aku terbangun. Dari mimpi indah. Saat aku masih menatap mu
di samping ku. Kau bicara, bercanda, lalu kau tersenyum, menunjukkan ketulusan,
keikhlasan, dan kebahagiaan. Tak bisa aku berdusta ketika aku berpikir ada sesuatu yang lain di
dirimu, sayang.
Aku
baru saja terbangun. Aku menyesal. Aku terus bertanya, mengapa aku terbangun di
tengah mimpi indah itu? Aku sedang bahagia dengan mimpi itu, aku sedang
menikmati kebahagiaan ku itu. Sampai tiba-tiba semua nya hilang. *Poof!*
Ternyata
aku bermimpi! Aku mendapati diriku tergeletak di antara kesakitan dan
kekecewaan itu saat terbangun. Sejenak aku tersadar kalau aku tertidur. Aku bermimpi
dan membiarkan kebahagiaan itu mengalir deras. Tidak peduli apa pun yang
ikut mengalir bersama kami. Waktu kah, jarak kah, ataupun sesuatu lain yang
mengusik. Aku tak sempat mempedulikannya. Aku terlalu sibuk dengan mu yang
selalu membuat ku tak punya alasan untuk
pergi dari situ.
Aku kecewa karena aku
terbangun. Aku tidak ingin terbangun.
Aku tidak ingin ada disini.
Aku ingin di dunia mimpi saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar