Minggu, 29 April 2012

Corat-coret masa lalu


Sungguh menyebalkan. Beginilah kalau kebanyakan main, tugas numpuk bikin stres. Tugas ini membuat ku puyeng setengah mati. Aku mesti kembali membuka buku pelajaran SMA ku.

Dengan lincahnya, aku membolak-balik susunan buku satu per satu di dalam lemari. Senyum ku tiba-tiba mengembang. Tumpukan catatan SMA ku ini tampak lucu, corat-coret di belakang nya seakan membawa ku ke masa-masa itu. Indah dan menyenangkan.

Sementara  membuka-buka lembaran buku Fisika, mataku sempat melirik ke sebuah buku berwarna kuning, bertulis ‘Diary 2005’. Aku menatapnya lama, lalu ku raih dengan rasa penasaraan. Apa yang ku tulis dalam  buku ini ya? Batin ku.

 Lembaran pertama:
 Kamis, 11 Agustus 2005. Di sekolah, saya disuruh membuat buku harian dan mulai saat ini dan di buku ini saya memulai buku harian ini.

Hati ku tergelitik membacanya. Ternyata catatan harian ku waktu SMP. Dari sini aku mulai berkenalan dengan yang namanya diary. Segala yang penting ataupun tidak penting sama sekali ku tuangkan dalam buku itu dengan rangkaian kata ala anak SMP. Buku yang manis, dengan spidol warna-warni disana-sini. Stiker-stiker kartun tak henti menarik perhatian ku. Hingga pada suatu lembaran. Lembaran yang paling ramai dari sebelumnya. Lebih berwarna, lebih banyak stiker.

Senin, 5 September 2005.

Ya, aku ingat betul hari itu. Hari dimana aku datang ke masjid dekat rumah ku untuk pengajian. Hari dimana aku pertama kali melihatnya. Hari dimana aku ingin sekali mengetahui namanya. Seorang lelaki berperawakan tinggi, tapi tidak terlalu kurus. Aku mengaguminya, setahu ku itu yang aku pikirkan waktu itu. Pemikiran murni anak SMP yang masih polos, baru saja tamat SD.

Hari-hari selanjutnya aku tidak memikirkannya lagi. Benar-benar pemikiran anak kecil yang masih lugu. Hingga suatu hari aku dipertemukan lagi dalam bulan Ramadhan, masih di tempat pertama kali aku melihatnya. Aku senang, sampai kadang aku sering tersenyum sendiri jika melihatnya. Hal ini aku utarakan kepada mereka yang menjadi sahabat ku. Mereka mendukung ku. Dan aku memanggilnya dengan nama ‘kakak’. Dia kakak ku. Aku tidak pernah bertegur sapa. Aku tidak pernah berbincang dengannya. Hanya sekedar bertemu dan saling melihat secara tidak sengaja.

Lembaran-lembaran buku diary itu aku buka perlahan-lahan.

Rabu, 30 November 2005. Eh, tau nggak. Hari ini aku dapat kabar gembir tentang kakak. Kabar ini dari adikku. Sudah 2 bulan aku mencari kabar tentang kakak. Tapi belum dapat-dapat. Sekarang aku sudah tahu nama kakak siapa. Jadi aku tidak lagi memanggilnya kakak. Tapi, namanya. Nama kakak yaitu A-R-I-S. Iya, namanya Aris. Cocok kan sama wajahnya. Sekarang aku bukan panggil dia kakak, tapi Aris, eh, maksud ku kak Aris. Dia kan lebih tua dari saya. Orang yang lebih tua dari saya akan saya panggil kak. ha...ha...ha... Kak Aris... Kak Aris...

Aku tersenyum lagi. Dasar aku! Kak Aris, kira-kira dimana kakak sekarang? Baik-baik kah kakak disana? Aaah, jika aku mengingat nya lagi, aku merasa kelopak mata ku ingin basah. Ku lanjutkan membuka-buka kenangan bersama Kak Aris. Pada lembaran berikutnya, tampak lebih tebal. Ada koran yang ku selipkan disitu. Koran tentang kakak kah? Hebat kakak masuk koran. Hmm...

Tunggu dulu, berita di koran itu. Berita yang menampar ku. Berita yang tak pernah bisa aku percaya. Kakak... pergi. Dia pergi. Dia pergi meninggalkan kenangan. Pergi ke suatu tempat. Dia akan hilang dari pandangan ku selamanya.

Minggu, 9 Juli 2006. Ri, malam ini aku sedih. Waktu aku lewat di depan lorong kakak banyak banget orang. Trus aku nanya sama orang disitu. Katanya ada yang kecelakaan. Untuk memastikan, aku nanya dia tinggal dimana? Orang itu nunjuk rumah kakak. Aah, masa kakak, aku gak percaya. Samar-samar aku dengar pembicaraan orang-orang disitu. Benar, dia kakak. Aku mulai agak yakin. Masa sih? Aku rada-rada nggak percaya yah. Tau ah. Aku juga belum yakin. Hahaha... tenang aja. eh, eh, aku nonton ADA band lagi lho. Si Donnie tuh penampilannya keren abis. Trus tambah cute dia. Lihat Donnie, aku jadi ingat kakak. Hmm, bagaimana kalo berita itu benar?

Yang benar saja. Koran itu adalah bukti. Aku sudah tahu alasan mengapa aku menempel koran tepat hari itu. supaya aku tidak ragu lagi. Supaya aku hanya bisa mengenangnya dan melanjutkan apa yang seharusnya tidak terhenti disini. kisah ku, bersamanya, harus terhenti disini. tapi aku harus melanjutkan kisah ini, dengan orang-orang baru. Dengan mereka. Mereka yang hadir bergantian, pergi brgantian. Tapi yang terakhir ini, aku tidak pernah berharap dia terganti, aku tidak pernah berharap dia juga menghilang tanpa jejak. Aku ingin dia menjadi penutup kisah ini. Pelengkap kisah yang tak sempurna ini.

Aku menyimpan kembali buku kuning penuh kenangan itu di tempat semula. Agak tersembunyi dari yang tadi, takut terlihat sewaktu-waktu dan aku berani membukanya dan terjebak lagi bersama bayangan yang telah ada disana.

Buku Fisika yang sedari tadi ku cari akhirnya ku temukan juga. Aku menuju meja belajar dan sesaat aku sudah terhanyut dalam soal-soal yang tak henti membuat ku garuk-garuk kepala. Bingung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar