Keberanian ku tiba-tiba datang saat itu. Ku tawarkan kembang gula kepadamu, tapi kau menggeleng saja. Raut wajahmu menampakkan tidak senang. Kenapa? Tanyaku dalam hati. Mungkinkah kau tidak senang dengan pertemuan yang ‘sangat langka’ ini? kau tidak tau betapa aku ingin menceritakan kepada semua orang bahwa aku bahagia, menatap mu lagi, berbincang dengan mu lagi walau hanya sepatah kata. You don’t know dear!
Aku tidak mengerti ada apa dengan mu. Dalam perjalanan, aku mendengar beberapa kali kau berdehem. “Kau sakit?” tanya ku tanpa ragu. Kau menggeleng. Tapi aku tau kau sedang kurang sehat. Kenapa masih saja kau keras kepala? Apa yang kau tunjukkan sebenarnya?
Aku tidak ingin mengacaukan pertemuan yang mungkin akan sangat jarang terjadi. Mungkin setiap tahun hanya bertemu... Hmm... tidak lebih dari 10 kali. Sungguh miris :’( tapi aku akan tetap bertahan. Karena sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
Gedung-gedung pertokoan, deretan rumah telah ku lewati. Menapaki jembatan layang, aku tersenyum sendiri. Ingin rasanya aku berkata kepadamu, bisakah kau berhenti sejenak? Pemandangan dari atas sini sangat indah. Tapi aku malah hanya bisa melihat beberapa orang yang mewujudkan harapanku tadi. Sayang sekali padahal. Roda-roda terus berjalan.
Moment yang sangat rumit untuk ku jelaskan dengan kata-kata. Hanya aku, kau, dan mereka yang tau. Memoar pertama kali yang ku harap menjadi awal sebuah perjalanan. Tapi aku masih tidak mengerti dengan sikapmu!
Pertama kali melihat mu (setelah beberapa bulan), kau lebih banyak diam. Aku heran, ini bukan dirimu. Kau itu... Kau itu... berbeda.. kau berubah. Kau kenapa? Adakah kesalahan ku yang menyebabkan tak ada kata dari mulutmu? Aku masih berpikir untuk menuggu kata-kata mu yang menyenangkan itu. Ayolah, ajaklah aku bercanda walaupun mungkin garing. Kemana dirimu? :’(
Aku tau kau tak pernah mau tau tentang sesuatu yang tidak aku mengerti. Aku memang susah dimengerti. Seperti kata mu waktu itu di depan mereka -_- tega sekali :’( kau kenapa? Sekali lagi aku bertanya.
Aku jadi teringat pertanyaan mu waktu itu, kau kenapa? Ada masalah apa? Coba cerita! Katamu sambil menaruh dagu di lipatan tangan mu. Dan aku hanya bisa terdiam di sampingmu. Kau peduli padaku? Hal itu saja yang aku pikirkan saat itu, sehingga aku lupa pertanyaanmu sebenarnya. Kau lalu mengulangi pertanyaan itu, kau kenapa? Ada masalah apa? Coba cerita! Sejenak, aku pun mulai bercerita tentang unek-unek yang selama ini aku rasakan. Ya, kepadamu, kau ingat kan? Waktu kau menyuruhku untuk tidak memendam masalah. Aku senang. Aku bahagia. Karena kau menyadari itu. Ya, aku bahagia :’)
Selanjutnya, aku akan bertahan. Aku tidak akan mungkin melepaskan sesuatu yang membuat ku bahagia. Kebahagiaan yang akan selalu menciptakan senyuman, motivasi, dan... SEMANGAT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar