Hai, apa
kabar mu yang disana? Ku harap kau baik-baik saja. Apakah kau sedang tersenyum?
Tidak? Ayolah, biarkan huruf-huruf ini melihat senyum mu itu agar mereka juga
bahagia, seperti ku. aaah iya, lama tidak berjumpa. Apa saja yang telah kau
lakukan disana? Aku selalu menunggu cerita mu, yang walaupun ku paksa bercerita
kau tak kan mau. Kali ini aku tidak akan bercerita apa-apa. Aku akan menunggu
mu untuk bercerita. Apa saja. Ayo, cerita lah. Aku akan mendengarkan mu.
.
.
.
.
.
Kenapa? Kau
tidak mau cerita? Atau kau tak punya cerita? Aku yakin selama setahun kita
tidak bertemu kau punya segudang cerita yang mungkin akan kau bagikan kepada
teman-teman mu, tapi tidak kepada ku. tapi sekarang, aku ingin kau ceritakan
semua kepada ku sampai-sampai teman-teman mu tidak akan kebagian ceritamu. Ayo,
ceritalah!
.
.
.
.
.
Masih tidak
mau cerita? Kenapa? L kau tidak percaya pada ku? kau
tidak suka bercerita dengan ku? aku akan mendengarkan mu secara seksama. Aku
tidak akan berkomentar apapun sampai ceritamu selesai. Jadi, ceritalah. Aku
menunggu mu berkutik.
.
.
.
.
.
Kau tidak
berubah. Masih terdiam jika ku suruh cerita L aku sedih kau seperti ini. Kau
memang selalu membuat ku sedih, padahal aku selalu menunggu mu membuat ku
tertawa dengan cerita-ceritamu, seperti yang kau lakukan kepada teman-teman mu.
Baiklah. Aku akan menunggu cerita-cerita yang kau bungkus dengan kebisuan mu.
Kalau
begitu, buang saja surat yang tak berguna ini ke tong sampah. Jika kau tidak
senang, kau bisa meremuk-remuknya, membuangnya ke lantai, menginjak-injaknya,
mengambilnya kembali, meremuk-remuknya lagi, dan membuangnya ke tong sampah
yang dipenuhi lalat. Lalu kau pergi menjauh dengan hati lega, tak sedikitpun
kata dari surat ini yang tersimpan di benak mu. Karena kau…. Memang tidak
pernah suka surat-surat dari ku :’)