Sabtu, 20 Juli 2013

Surat ini… buang saja ke tong sampah!



Hai, apa kabar mu yang disana? Ku harap kau baik-baik saja. Apakah kau sedang tersenyum? Tidak? Ayolah, biarkan huruf-huruf ini melihat senyum mu itu agar mereka juga bahagia, seperti ku. aaah iya, lama tidak berjumpa. Apa saja yang telah kau lakukan disana? Aku selalu menunggu cerita mu, yang walaupun ku paksa bercerita kau tak kan mau. Kali ini aku tidak akan bercerita apa-apa. Aku akan menunggu mu untuk bercerita. Apa saja. Ayo, cerita lah. Aku akan mendengarkan mu.

.

.

.

.

.

Kenapa? Kau tidak mau cerita? Atau kau tak punya cerita? Aku yakin selama setahun kita tidak bertemu kau punya segudang cerita yang mungkin akan kau bagikan kepada teman-teman mu, tapi tidak kepada ku. tapi sekarang, aku ingin kau ceritakan semua kepada ku sampai-sampai teman-teman mu tidak akan kebagian ceritamu. Ayo, ceritalah!

.

.

.

.

.

Masih tidak mau cerita? Kenapa? L kau tidak percaya pada ku? kau tidak suka bercerita dengan ku? aku akan mendengarkan mu secara seksama. Aku tidak akan berkomentar apapun sampai ceritamu selesai. Jadi, ceritalah. Aku menunggu mu berkutik.

.

.

.

.

.

Kau tidak berubah. Masih terdiam jika ku suruh cerita L aku sedih kau seperti ini. Kau memang selalu membuat ku sedih, padahal aku selalu menunggu mu membuat ku tertawa dengan cerita-ceritamu, seperti yang kau lakukan kepada teman-teman mu. Baiklah. Aku akan menunggu cerita-cerita yang kau bungkus dengan kebisuan mu.

Kalau begitu, buang saja surat yang tak berguna ini ke tong sampah. Jika kau tidak senang, kau bisa meremuk-remuknya, membuangnya ke lantai, menginjak-injaknya, mengambilnya kembali, meremuk-remuknya lagi, dan membuangnya ke tong sampah yang dipenuhi lalat. Lalu kau pergi menjauh dengan hati lega, tak sedikitpun kata dari surat ini yang tersimpan di benak mu. Karena kau…. Memang tidak pernah suka surat-surat dari ku :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar