Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juli 2013

‘Galih dan Ratna’ yang Lain



Mereka bertemu lagi. Tentunya di dunia maya. Mereka tidak mungkin bertemu saat ini, karna jarak yang terlampau jauh. Jauuh sekali. Dan malam ini, mereka dipertemukan dalam suatu percakapan singkat, namun ‘bermakna’. Selanjutnya, bisakah kita menyebut mereka ‘Galih’ dan ‘Ratna’ ? mengerti kan :) ?

Disinilah Ratna, yang memulai dengan sapaan. Salam yang dirangkaikan deng kata-kata yang casual seperti orang yang lama tak berjumpa, “apa kabar?”. Galih, seseorang yang ditanya pun menjawab salam diiringi kata “baik”. hanya itu. “baik”. Ratna masih menunggu kalimat yang akan menyusul berikutnya. Kau tau apa yang ditunggu-tunggunya? 

Ratna merasa sedikit kecewa. Dia berharap, “kamu apa kabar?”, akan menjadi kalimat setelah kata “baik” itu. namun, nihil. Ratna tidak ingin obrolan yang begitu ‘langka’ terhenti begitu saja. Dia pun melanjutkan, “mengapa kau tidak pernah membalas pesan ku?”. tidak lama Galih menjawab, “maaf, aku tidak sempat melihatnya”. Aku tau, kau sangat sibuk! Gumam Ratna, lalu dia menjawab, “tidak apa-apa”. Ratna mengakhiri  obrolan.

Kau tau perasaan Ratna saat itu?

Kau pikir dia akan marah? Kau pikir dia akan kecewa? Kau pikir dia akan sedih?

Tidak! Sama sekali tidak!

Dia senang. Sangat sangat senang. Ratna berpikir, akhirnya dia membalas pesannya. Tidak disangka, Galih melanjutkan obrolan yang disangka Ratna telah selesai. “sudah libur?”, katanya. Ratna tersenyum, dia senang sekali. “ya, kamu?”. Tidak lama kemudian, Galih menjawab, “ya”. Ratna pun kembali bertanya, “jadi kamu sudah balik?”. Dia harap-harap cemas menanti jawabnya. “belum”, kata Galih. Ratna merasa sangat sedih. Ternyata dia belum kembali. Obrolan pun benar-benar berakhir saat itu juga.

Sesaat Ratna tertegun. Dia sedikit kecewa karena Galih tidak menanyakan kabarnya. Aaah, apa dia lupa? Apa dia tidak ingat? Tentu Ratna tidak berharap  jika jawabannya adalah dia sudah tidak peduli lagi kepadanya. Apakah tidak secuil saja dia ingin tau kabar tentang ku? tidakkah dia ingin tau apa yang telah terjadi padaku? Walaupun aku akan berkata baik-baik saja sedangkan aku tidak sedang baik-baik saja. Ya, dia tidak. Kalau begitu, apalah arti Ratna bagi Galih?

Sepertinya tidak ada!

Ratna lalu merenung dan bertanya dalam hati, haruskah aku pergi? Tapi, aku tidak mau meninggalkannya. Aku tau, kau sedang memikirkan seseorang yang lain, tapi bisakah aku sedikit mengambil peran di kehidupan mu? Sedikit saja. Menjadi orang yang kau butuhkan? Walaupun kau hanya mengingat ku ketika kau butuh? Bisakah?

Disana, dia merasa sepi memikirkan jawaban dari pertanyaan yang ia buat sendiri. Sungguh membuat dia jadi pusing. Setidaknya dia sangat senang, dia kembali berbincang dengan orang yang disayanginya, walau hanya di dunia maya.


Terkadang, ada kisah ‘Galih dan Ratna’ yang lain, namun sangat miris, seperti ini.. yaa, kisah ini.. Cuma fiksi kok :3 hahaha semoga kisah teman-teman menyenangkan dan tentunya tidak seperti ‘Galih dan Ratna’ gadungan di atas ;)

Minggu, 17 Maret 2013

Karena aku sahabat mu yang… !




                “Huh, harusnya kerja kelompok itu musti kerja berkelompok, bukan kerja individu,” ya, itu saja yang aku ribetkan di sore ini. Sambil surfing di internet mencari referensi buat makalah yang harus dikumpul besok. Dan anak itu! anak itu dengan teganya meninggalkan ku dengan amanah yang diserahkannya semua kepada ku. bukan kah itu menyebalkan?? Lebih menyebalkan lagi karena dia pergi untuk urusan pribadi.
^^v

                “Ay, ntar kerja kelompok nya ditunda aja deeh ya,”
                “kenapa emang?” Tanya ku sinis.
                “yaa… gituu… ada acara… hehehe… yah yah yah, please, Ay!” katanya sambil merengek. Kayak anak kecil saja  ┐(︣  _︣  )┌
“Nah trus, ini makalah yang ngerjain siapa? Nggak mungkin ditunda Ciko, dikumpulnya besok! Mana Slide buat presentasi nya belum dibuat lagi. Ga bisa ditunda Cik!”
                “Aya, please, ku mohon! Akuu.. akuu.. maa…” belum sempat Ciko melanjutkan, aku bergegas pergi.
                Dia, sahabat ku. Begitulah dia. Apa-apa mesti aku, apa-apa mesti aku. Tapi aku mauu aja bantuin dia dengan senang hati. Wong aku suka sama dia :D jadinya apa aja deh gak apa-apa. Dasar -___-“
Sampai suatu ketika aku marah banget sama dia. Sebenarnya bukan marah sih, aku kecewa berat sama dia. Kecewa pake banget! Dia telah membuat ku menunggu lama dalam keadaan sendiri, katanya mau kerja kelompok bareng di tempat les. Aku dibuat menunggu sampe malam di tempat les, mana hujan deras, teman-teman yang lain udah pada pulang juga. Siapa coba yang nggak ngeri?? Tapi aku masih mau memafkannya. Wong aku suka dia :D
^^v

“Aya!” sahut Ciko dari arah parkiran. Sebenarnya aku melihat dia, tapi aku pura-pura tak melihat. Aku masih ma… ehm, kecewa sama dia.
“Aya! Dipanggil kok nggak nyahut? Hh.. hh.. “ napas Ciko masih belum stabil. Dia mengejarku sampai keluar gerbang sekolah.
“Aku nggak dengar!” jawab ku singkat. Dan sinis tentunya.
“marah ya, Ay?” aku tidak berani menatap wajahnya, aku yakin dia pasang muka kasihan. Kebiasaannya yang berhasil membuat ku tersenyum melihatnya, karena dia memang lucu ^^.
“Ay, maaf deeh. Pasti ragara kemaren kan?! Aku merasa bersalah banget. Suer!” Coki mengangkat telunjuk dan jari tengah nya. Dan aku masih belum bersuara. Kami terjebak di ruang hampa. Terdiam.
“maaf Ay, janji gak bakal gitu lagi!” Ciko kelihatan serius. Aku mulai mengangkat kepala.
“udah, nggak apa-apa. Itu kan kebiasaan mu. Ingkar janji!”
“ya, maaf deh. Kan udah janji. Makasih Ay!” tangan Coki tampak mulai ingin menjitak kepala ku lagi. Tapi bis ku cegah. Fyuuuh~
“emang semalam kamu kemana?” aku mulai kepo.
“nah, itu dia Ay. Sebenarnya aku juga mau ngobrol sesuatu hal,” Ciko malah celingak-celinguk memastikan tidak ada orang yang mendengar pembicaraan kami.
“gini, aku mau kasih kado buat seseorang. Bingung banget mau kasih apa. Please, bantu yaah,” hmm, pembicaraan Ciko mulai gaje bin enjel. Not clear at all!
“maksud kamu, semalam kamu ga datang karena lagi nyari kado?”
“Ya… nggak gitu juga sih, abisnya ujan dan hape ku ga ada pulsa, jadinya pas pulang beli kado, aku nggak beri tahu kamu. Makanya, aku minta maaf banget, Ay! Please, forgive me!” Hahh?! Cuma buat itu?? tega!!
“Ay, bantuin aku yah. Hmm, sebenarnya aku lagi suka seseorang!”
Glek! Apa tadi katanya?
“iyya Ay, jadi aku pengen kasi kado dan nembak dia. Adik kelas kita yang anak baru, gimana menurut mu Ay?”
Dushtak!!! Suka seseorang??? Adik kelas yang baru??? Aah, iyya, dia memang cantik, pintar, dan berbakat. Tapi, yang suka sama kamu itu… aku! Bukan dia!
“Ay, kok diem? Kamu nggak mau bantuin ya? Padahal aku ngarep banget kamu  bantuin,” aku masih bermain dengan pikiran ku sendiri. Aku masih bermain dengan perkiraan ku sendiri. Bagaimana mungkin ‘aku suka dia suka “dia”, seharusnya ‘aku suka dia suka aku’, iyya kan? Atau itu hanya harapan ku? mungkin itu hanya pikiran ku, kalau dia juga merasakan yang ku rasakan..
“Ay?”
“eh iyya Cik, ohh.. hmm.. iyya, ntar aku bantuin yaah, pulang sekolah ketemu di minimarket di depan rumah ku, disitu banyak kok benda-benda unik yang bisa jadi kado, pokoknya bakal ku pilihin deh kado yang paling bagus, dan nggak bakal deh dia nolak kamu,” kata ku sambil tersenyum…. Dalam hati menangis.
“aaaah, Ayaaaaa! Ai lop yuu puuuul… lo emang sahabat ku yang puaaling mantep.. top markotop di duniaaa!! Aaah, makasih Ayaaa!” Ciko hampir saja mengguncang-guncang badanku. Nyaris.
“iyya, Cikoooo. But, please, don’t ever touch me, right!”
“hahahaha… Aya jelek!”
“kamu tuh jelek! Ble :P” kata ku manyun,” Cik, aku duluan ya. Ntar ingat lho.”
“Otre bozz” sesaat aku sudah berlalu dengan perasaan sesak tak tergambarkan, seperti ada yang menikam di balik senyum nya tadi. Sakit!
“Aya!!!” Tiba-tiba Ciko memanggil ku. aku hanya menggigit bibir. Tidak sanggup berbalik, aku hanya berhenti sejenak.
“kamu baik-baik saja?” tanyanya dari kejauhan.
Aku masih berdiri tanpa berbalik. Ku angkat jari tengah, jari manis, dan jari kelingking ku menandakan ‘oke’. Lalu ku percepat langkah…

Salah kah diri ku ini apabila rasa ini ada di hati ku
Kau memang sahabat ku kau memang teman baik mu
Dan aku jatuh cinta padamu
Sakiti hati ku bila aku melihat kau tak tersenyum
Karena cinta mu sedang terluka
Dia menyakitimu dan aku sakit karena nya
Kau ingin cinta sejati kau ingin ketulusan hati
Biarkan ku nyatakan aku mencintai mu
Biarkan aku datang di dalam hati mu
Biarkan ku akhiri rasa sakit di hati mu
Karena aku sahabat mu
Aku yang dengan tulus mencintaimu

*cerpen ini terinspirasi lagu nya nindy (ato cindy ya aku lupaa >.<) aku sahabat mu yang mencintaimu


Rabu, 13 Februari 2013

Cerpen Komedi yang Lagi-lagi Belum Jadi!



                “And done I’ll been do is protecting..
                A lie for the safe of my bright..
                While all the others safe me thinking
                We could be more than just amazing”
                Lagu salah satu boyband terkenal, Westlife, sangat nyaring terdengar dari sebuah mobil konvertibel bermerk Marcedes Benz. Di kaca spion tampak jelas lelaki berkaca mata hitam sambil berkomat-kamit mengikuti lirik-lirik yang tengah mengalun. Bubi  terlihat sangat santai di perjalanannya menuju lokasi shooting di London.
                “hey brow, what’s up?” seorang bule menyambut kedatangan James dengan tangan terbuka, mengajak toss maksudnya. Ketika hendak menyambut tangan Bradd, tiba-tiba saja...
                “Bubiii... jam segini masih tidur aje! Bangun woy, lo musti sekolah! Tuh lihat, si Jeje udah daritadi nungguin, mandi sono!” tapi Bubi malah menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
                “ntar aja maa, blom sempat salaman sama Bradd Pitt,”
                “aduuh Bubiii... mimpi aje lo kerja. Sono skolaah dulu trus keluar negeri ketemu Bradd Pitt, trus salaman deh tuh,” mama nya emang jago banget berkata-kata.

*Bersambung sampai batas waktu yang tidak ditentukan -______-

Minggu, 10 Februari 2013

Cerpen Belum Jadi!



Cahaya matahari masih tersipu malu menampakkan keindahnnya dari balik awan. Butir-butir air pun setia menyelimuti dedaunan di sekitar ku. Hujan semalam terasa menyisakan dingin yang memaksa untuk merapatkan jaket yang ku kenakan. Aku terduduk di anak tangga sekolah menyaksikan lalu-lalang para pelajar berseragam. Sesaat, sinar mentari memantulkan bayangan hitam dari sosok yang sangat aku kenal. Dan sebenarnya  aku tunggu sedari tadi. Aku menelan ludah dan segera memalingkan perhatian ke arah yang lain.
“selamat pagi,” suara yang terdengar ramah tiba-tiba mengusik pendengaran ku.
“selamat pagi,” balasku dengan senyum hangat dan anggukan kecil. Dia tersenyum dan berlalu. Aku menggigit bibir. Tuhan, kali ini dia pasti tersenyum untuk ku. Ya, hanya untuk ku. Setelah agak lama, aku pun bergegas masuk kelas. Dengan hati berbunga-bunga tentunya.
                                                                ^^v
“Vian!” seseorang memanggilnya dari arah bawah. Yang dipanggil segera menyahut dan menghilang. Pandangan ku pun berpaling dari sosok yang bernama Vian, begitulah teman-teman memanggilnya. Dia seorang peramah. Dan menurut ku, seorang pengacau dan berkepribadian ‘ganda’, maksud ku, bagaimana mungkin dia bersikap layaknya seorang pengacau tapi di sisi yang berbeda dia menjadi seseorang yang bijaksana. Aneh!
Aku jadi teringat peristiwa mengejutkan beberapa bulan yang lalu. Ketika tiba-tiba dia memberikan aku sebungkus coklat karamel. Tidak ada yang aneh dengan itu, hanya dia memberikan aku sementara aku tidak mengenalnya sama sekali. Mungkin karena aku terlalu kuper dan jarang keluar kelas.
“hey, ini buat kamu!” kata nya saat itu, sambil menyodorkan sebuah kotak terbungkus rapi. Aku bingung dan kaget. Siapa dia? Tanya ku dalam hati. Bergantian, ku tatap bungkusan itu dan wajahnya.
“ini ambil!” katanya memaksa. Aku semakin bingung dan mengernyitkan kening.
“maaf, tapi ini apa dan kenapa kamu memberinya kepadaku?”, tanyaku hati-hati, “atau mungkin kau salah orang kalii,”
Dia tersenyum dan meraih tangan ku, “sudah, ambil saja! Anggap ini kado perkenalan.” Lalu dia berlalu meninggalkan ku dengan sejuta tanya yang tidak sempat terucap. Sejak saat itu, aku jadi sedikit mengenalnya. Vian, si pemberi coklat karamel.
                                                                                ^^v

*Bersambung sampai ada inspirasi buat menyambung nya  -____-