“Huh,
harusnya kerja kelompok itu musti kerja berkelompok, bukan kerja individu,” ya,
itu saja yang aku ribetkan di sore ini. Sambil surfing di internet mencari
referensi buat makalah yang harus dikumpul besok. Dan anak itu! anak itu dengan
teganya meninggalkan ku dengan amanah yang diserahkannya semua kepada ku. bukan
kah itu menyebalkan?? Lebih menyebalkan lagi karena dia pergi untuk urusan
pribadi.
^^v
“Ay,
ntar kerja kelompok nya ditunda aja deeh ya,”
“kenapa
emang?” Tanya ku sinis.
“yaa…
gituu… ada acara… hehehe… yah yah yah, please, Ay!” katanya sambil merengek.
Kayak anak kecil saja ┐(︣ _︣ )┌
“Nah trus, ini
makalah yang ngerjain siapa? Nggak mungkin ditunda Ciko, dikumpulnya besok!
Mana Slide buat presentasi nya belum dibuat lagi. Ga bisa ditunda Cik!”
“Aya, please, ku mohon! Akuu..
akuu.. maa…” belum sempat Ciko melanjutkan, aku bergegas pergi.
Dia, sahabat ku. Begitulah dia.
Apa-apa mesti aku, apa-apa mesti aku. Tapi aku mauu aja bantuin dia dengan
senang hati. Wong aku suka sama dia :D jadinya apa aja deh gak apa-apa. Dasar
-___-“
Sampai suatu ketika aku marah banget sama dia. Sebenarnya bukan marah
sih, aku kecewa berat sama dia. Kecewa pake banget! Dia telah membuat ku
menunggu lama dalam keadaan sendiri, katanya mau kerja kelompok bareng di
tempat les. Aku dibuat menunggu sampe malam di tempat les, mana hujan deras,
teman-teman yang lain udah pada pulang juga. Siapa coba yang nggak ngeri?? Tapi
aku masih mau memafkannya. Wong aku suka dia :D
^^v
“Aya!” sahut
Ciko dari arah parkiran. Sebenarnya aku melihat dia, tapi aku pura-pura tak
melihat. Aku masih ma… ehm, kecewa sama dia.
“Aya!
Dipanggil kok nggak nyahut? Hh.. hh.. “ napas Ciko masih belum stabil. Dia
mengejarku sampai keluar gerbang sekolah.
“Aku nggak
dengar!” jawab ku singkat. Dan sinis tentunya.
“marah ya,
Ay?” aku tidak berani menatap wajahnya, aku yakin dia pasang muka kasihan.
Kebiasaannya yang berhasil membuat ku tersenyum melihatnya, karena dia memang
lucu ^^.
“Ay, maaf
deeh. Pasti ragara kemaren kan?! Aku merasa bersalah banget. Suer!” Coki
mengangkat telunjuk dan jari tengah nya. Dan aku masih belum bersuara. Kami
terjebak di ruang hampa. Terdiam.
“maaf Ay,
janji gak bakal gitu lagi!” Ciko kelihatan serius. Aku mulai mengangkat kepala.
“udah, nggak
apa-apa. Itu kan kebiasaan mu. Ingkar janji!”
“ya, maaf deh.
Kan udah janji. Makasih Ay!” tangan Coki tampak mulai ingin menjitak kepala ku
lagi. Tapi bis ku cegah. Fyuuuh~
“emang semalam
kamu kemana?” aku mulai kepo.
“nah, itu dia
Ay. Sebenarnya aku juga mau ngobrol sesuatu hal,” Ciko malah celingak-celinguk
memastikan tidak ada orang yang mendengar pembicaraan kami.
“gini, aku mau
kasih kado buat seseorang. Bingung banget mau kasih apa. Please, bantu yaah,”
hmm, pembicaraan Ciko mulai gaje bin enjel. Not clear at all!
“maksud kamu,
semalam kamu ga datang karena lagi nyari kado?”
“Ya… nggak
gitu juga sih, abisnya ujan dan hape ku ga ada pulsa, jadinya pas pulang beli
kado, aku nggak beri tahu kamu. Makanya, aku minta maaf banget, Ay! Please,
forgive me!” Hahh?! Cuma buat itu?? tega!!
“Ay, bantuin
aku yah. Hmm, sebenarnya aku lagi suka seseorang!”
Glek! Apa tadi katanya?
“iyya Ay, jadi
aku pengen kasi kado dan nembak dia. Adik kelas kita yang anak baru, gimana
menurut mu Ay?”
Dushtak!!! Suka seseorang??? Adik kelas yang baru??? Aah, iyya, dia
memang cantik, pintar, dan berbakat. Tapi, yang suka sama kamu itu… aku! Bukan
dia!
“Ay, kok diem?
Kamu nggak mau bantuin ya? Padahal aku ngarep banget kamu bantuin,” aku masih bermain dengan pikiran ku
sendiri. Aku masih bermain dengan perkiraan ku sendiri. Bagaimana mungkin ‘aku
suka dia suka “dia”, seharusnya ‘aku suka dia suka aku’, iyya kan? Atau itu
hanya harapan ku? mungkin itu hanya pikiran ku, kalau dia juga merasakan yang
ku rasakan..
“Ay?”
“eh iyya Cik,
ohh.. hmm.. iyya, ntar aku bantuin yaah, pulang sekolah ketemu di minimarket di
depan rumah ku, disitu banyak kok benda-benda unik yang bisa jadi kado,
pokoknya bakal ku pilihin deh kado yang paling bagus, dan nggak bakal deh dia
nolak kamu,” kata ku sambil tersenyum…. Dalam hati menangis.
“aaaah,
Ayaaaaa! Ai lop yuu puuuul… lo emang sahabat ku yang puaaling mantep.. top
markotop di duniaaa!! Aaah, makasih Ayaaa!” Ciko hampir saja
mengguncang-guncang badanku. Nyaris.
“iyya,
Cikoooo. But, please, don’t ever touch me, right!”
“hahahaha… Aya
jelek!”
“kamu tuh
jelek! Ble :P” kata ku manyun,” Cik, aku duluan ya. Ntar ingat lho.”
“Otre bozz”
sesaat aku sudah berlalu dengan perasaan sesak tak tergambarkan, seperti ada
yang menikam di balik senyum nya tadi. Sakit!
“Aya!!!”
Tiba-tiba Ciko memanggil ku. aku hanya menggigit bibir. Tidak sanggup berbalik,
aku hanya berhenti sejenak.
“kamu
baik-baik saja?” tanyanya dari kejauhan.
Aku masih
berdiri tanpa berbalik. Ku angkat jari tengah, jari manis, dan jari kelingking
ku menandakan ‘oke’. Lalu ku percepat langkah…
Salah kah diri ku ini apabila rasa ini ada di hati ku
Kau memang sahabat ku kau memang teman baik mu
Dan aku jatuh cinta padamu
Sakiti hati ku bila aku melihat kau tak tersenyum
Karena cinta mu sedang terluka
Dia menyakitimu dan aku sakit karena nya
Kau ingin cinta sejati kau ingin ketulusan hati
Biarkan ku nyatakan aku mencintai mu
Biarkan aku datang di dalam hati mu
Biarkan ku akhiri rasa sakit di hati mu
Karena aku sahabat mu
Aku yang dengan tulus mencintaimu
*cerpen ini terinspirasi lagu nya nindy
(ato cindy ya aku lupaa >.<) aku sahabat mu yang mencintaimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar