Selasa, 28 Agustus 2012

Sehari untuk 7 bulan kemarin dan 5 bulan kedepan!



Aku senang. Tapi perasaan senang yang aneh. Tidak seperti senang yang biasanya aku rasakan. Lagi-lagi otak tak sejalan dengan hati ku. Lagi-lagi otak mengusik hati ku yang sedang senang dan bahagia.

Ya, aku bertemu. Dengan perasaan senang. Senang yang aneh, menurut ku begitu. Dan mungkin (lagi-lagi) hanya aku yang senang. Dia tidak. Tapi semoga dia lebih senang dari apa yang aku rasakan.

Aku (dan mungkin dia) sangat senang. Ku sebut ‘sehari untuk 7 bulan kemarin dan 5 bulan kedepan’. Yang jelasnya aku senang. Dan bahagia. Masih dengan perasaan yang aneh. Mungkin karena sikapnya itu. seakan-akan ia ingin menunjukkan kepada ku sesuatu. Tapi aku masih belum mengerti apa yang sedang dia tunjukkan. Apakah ‘A’? atau ‘B’? aku bingung.

Aku ingin pergi. Pergi yang jauh. Jauuh sekali. di tempat yang tidak ada yang mengenali, sampai semua yang ‘aneh’ kembali normal. Iya, aneh sekali rasa senang itu. aku sebenarnya senang, tapi... aku tidak tau. Aku... akuuu.. aku.... terserah aku.

Selasa, 21 Agustus 2012

Solid –vs- Solkar!



Menurut Kamus Ilmiah Populer:

Solid: berisi; padat; mempat; kukuh; teguh;erat; tidak cair.
Solidarisme: ajaran yang menekankan sikap solider.
Solidaritas: kesetiakawanan; perasaan sepenanggungan.
Solider: setia kawan.
Soliditas: kesolidanan; kepadatan; kekukuhan; keteguhan.

Jelas sekali kalau ikatan solid itu kuat! Tapi.. apa benar ada kata ‘solid’ itu di dunia inii? Tentu saja ada! Ingat pelajaran kimia di SMA?  Solid menandakan suatu padatan dari sebuah unsur. Hmm.. tapi bukan itu maksud ku. Aku membicarakan ‘solid’ dalam artian lain. Solid seperti yang dibicarakan si kamus ilmiah tadi. Berasa ingin mencibir saja mendengar kata itu.

Memang,  dalam suatu komunitas akan tercipta kata solid dengan sendirinya. Mungkin karena adanya kesamaan antar mereka di komunitas itu. adanya suatu pemikiran yang sebenarnya berbeda-beda tapi memiliki tujuan yang sama. Apakah mungkin dalam solidaritas itu ada yang menjadi ‘solo’ atau solo carreer atau kerennya solkar?

Aku sedikit heran saja. Ironis, ketika melihat kata-kata berikutnya di kamus setelah kata solid.

                Solipsisme: anggapan bahwa aku sendirilah yang ada.
                Solis: pembawa solo; penyanyi tunggal.
                Solisit: pembawa solo; penyanyi tunggal.

Begitulah. Kata-kata itu mungkin bisa mengartikan tentang sendiri atau seorang diri. Kata yang bisa saja muncul karena banyak hal dalam suatu komunitas. Keterpaksaan, ketidaksukaan, ketidaksatuanpemikiran #ini apaan ya?!, dan ketidaksolidan itu  sendiri. Biasanya si solkar adalah seorang yang.... apa ya.... mungkin kau tau sendiri. Atau mungkin aku bisa menyebutnya EG**S! Apapun itu lah. Aku tidak peduli. Yang aku peduli, mengapa solid adalah hal yang sangat langka aku temui? Dimana saja... aku jadi berpikir itu hanya OM*NG K*S*NG! Aaah, tidak ada itu kata begitu-begituan...

Yaaaah, semoga suatu saat aku menemukan keadaan yang dinamakan SOLID SEJATI. #emang ada?! Aku tidak yakin sih sebenarnya. hmm..

Minggu, 19 Agustus 2012

Sekali Saja!



Iyya, kapan?? Kapan?? Aku tidak berharap jawabannya kapan-kapan. Aku ingin jawabannya segera. Se-ge-ra! Aku penasaran kapan datang nya ‘sehari’  itu?

Dua bulan. Itu enam puluh hari. Itu seratus empat puluh empat jam. Waktu yang sangat memungkinkan bertemu, karena  kami telah  menginjak kota yang sama. Tidak terpisah laut lagi. Sangat memungkinkan kan untuk melihatnya, walaupun hanya sepintas. Kenapa malah mereka yang mungkin tidak menginginkan pertemuan dengannya memiliki kesempatan itu. apa mungkin aku tidak boleh memiliki keinginan bertemu?

Tolong lah Rabb.. T_____________________T

Aku tau, ini hanya keinginan ku sendiri. Di pihaknya? Mungkin tidak seperti yang ku inginkan.
Sekali saja, beri kesempatan Rabb.. walaupun sehari itu mewakili 6 bulan atau satu semester kemarin. 

Walaupun sekali itu mewakili berjuta kali harapan untuk ketemu. Sekaliiii saja.. sebelum aku kembali menanti pertemuan selanjutnya selama berbulan-bulan. Entah kenapa mendengar ‘berbulan-bulan’ membuat ku  menelan ludah. Glek!