Senin, 16 April 2012

Unidentified Story ┐(˘_˘)┌


Kisah yang tidak teridentifikasi. Kisah yang entah apa judul, apa genre, dan siapa tokohnya. Kisah yang beralur maju mundur. Berlatar hitam putih, seperti TV tempoe doeloe. Soundtracknya? Hmm, mungkin Cuma suara ‘kriik..kriik’ (jangkrik donk!). simak aja deh cerita super mini pendeknya. Semoga nangis yah┌(T˛T)┐

“Mil, tunggu bentar!” Suara itu membuat Mila menghentikan langkahnya yang tergesa-gesa. Jelas saja, suara itu lah yang ditunggu-tunggu Mila sedari tadi.
“kenapa?”
“aku pengen minta maaf soal kemaren. Maaf yah,” ucap si teman. Mila malah cengengesan.
“kok malah cengengesan?” mungkin karena heran jadinya si teman nanya.
“aaah, nggak San. Kamu tuh ya, emang kamu pikir aku marah gitu?”
“Yaaa, iyaa. Soalnya daritadi kamu cuek bebek,” si teman malah tertunduk.
“Ckckck.. Sandy.. Sandy.. ya udah, nggak apa. Lagian yang kemaren itu aku Cuma bercanda kok. Kamu sih, ngaku-ngaku yang macam-macam. Udah ah, aku mau pulang. Daaah San!” Mila berbinar-binar sambil melangkah meninggalkan Sandy hingga memanggilnya lagi.
“gini Mil, sebenarnya...” Sandy tidak melanjutkan kalimatnya. Menggantung. Hal yang tidak disukai Mila. Karena penasaran, Mila melanjutkan, “sebenarnya...?” lalu yang ditanya malah menggigit bibir.
“sebenarnya aku mau minta tolong ama kamu,”
Mila terdiam. Senyumnya yang seakan senang, segera berganti dengan bibir yang merata. “minta tolong apa?”
“Hmm, gini Mil. Aku rencananya pengen kasi kado buat seseorang. Yaaah, kamu tahu kan, aku tuh kayak gimana. Bingung banget aku cari kado nya, bantu yah! Please Mil, kamu kan teman ku yang paling baik, ya..? ya..?” Yang ditanya malah terdiam sejenak. Ada rasa sakit yang hinggap di lubuk hatinya. Sakit sekali yang dia rasa. Bukan asma, ataupun sakit jantung. Bukan. Tapi, sakit yang seperti sesak. Sakit seperti tersobek-sobek.
“Mil, bantuin yah?” Mila lalu tersenyum. “Iyya deh, emang mau kasih siapa sih?”
“Yaah, cewek gitu. Biasalah Mil, PDKT! Nggak ngerti sih kamu, makanya punya gebetan donk.”
Mila seakan ditampar. Ternyata selama ini kamu nggak nyadar yah, San. Ternyata... selama ini... Teman? Ya, kita Cuma teman. Nggak lebih.
“ya udah, ntar kita ke toko boneka aja yah. Nanti aku pilihkan yang paling bagus!”
“hehehe kamu tuh bisa aja. hmm, sebenarnya aku pengen minta tolong dibeliin sekalian dibungkusin. Kamu kan pasti tahu seleranya cewek kayak gimana, yaaah, minimal yang gambar Love-love gitu. Biar romantis!”
What? Love? Oh, aku jadi mengerti arah pembicaraan ini. tega sekali kau menjatuhkan ku. Aku, yang kau anggap hanya teman. Teman biasa. ya!
“ya udah, Mil. Aku percaya banget ama kamu. Please, tolong yah! Aku juga minta doa semoga berhasil deh rencana ku ini. oke bro?” tangan Sandy mengajak tos.
“nggak ah, tos aja tuh ama pohon. Ya udah deh. Nanti aku hubungin yah kalo udah jadi. Aku mau pulang.’
“aduuuuh Milaaaa. Kamu emang baek banget daaaah. Teman ku yang paling setia. Luph you daaaah. Hehehe keceplosan!”
Mila menatap Sandy dengan tampang  jijik. Lalu, meluruskan pandangannya kembali. Tapi, tampangnya berbeda. Wajahnya seakan kecewa. Karena pernyataan tadi mungkin. Dia bingung. Dia serba salah. Harus senang atau sedih. Senang karena ucapannya ‘Aku percaya banget ama kamu’, tapi harus menerima kenyataan kalau orang yang dia sukai ternyata menyukai orang lain. Dan sekarang apa? Mila harus memilihkan kado untuk orang yang disukai temannya itu. Sakit sekali. Tapi dengan senang hati, Mila pergi ke toko boneka dan membeli bantal berbentuk love berwarna merah hati. Cantik sekali. si cewek pasti suka, ucap Mila sambil tersenyum. :’)

  1. *Ckckckck... Kasian banget si Mila. Semoga nggak ada yang ngalamin deh haha :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar