Bismillah...
Pertama, aku ingin mengucapkan ‘Alhamdulillah’ masih diberi kesempatan untuk bisa memutar otak menyusun kata demi kata dan bisa di tuangkan di blog ini. Aku sangat bersyukur dan tidak pernah berhenti berucap s yukur dan tidak akan lelah menaungkan syukur kepada-Nya. Dia, Ar-Rahman, Ar-Rahim. Maha Mendengar dan selalu menyayangi setiap hamba-Nya yang bertaqwa. Semoga rahmat-Nya selalu diberikan kepada kita semua. Amin Ya Rabb!
Menurut ku, masa-masa sekarang ini adalah masa-masa ‘kritis’ ku sebagai ‘seseorang’ dimana saja. Berkutat dengan masalah-masalah hidup yang kadang membuat ku berpikir untuk lari dari kenyataan. Tapi, itu hanya dilakukan oleh orang yang kurang kerjaan. Ya, kurang kerjaan. Maunya hanya lari, lari, dan lari.
Kau tahu, masa ‘kritis’ ku terbagi dalam berbagai fase. Fase pertama, suatu keadaan yang harus menghadapkan ku dengan segudang tugas kuliah yang tambah hari seperti mencari duri di antara sekian banyak pentul. Tugas yang sebenarnya nampak tapi agak sulit di dapatkan. #angkat tangan dengan hal ini. Di otak ku hanya sebuah pengharapan.
Rabb, hanya Engkau yang bisa menolong ku.
Fase kedua, kondisi yang mengharuskan ku menjadi seorang pembicara, atau tepatnya menjadi orang yang baru belajar to be a speaker. Mengingat diri ku yang not to be able in speaking, aku masih perlu banyak berlatih. Aku juga tidak mengerti dengan diriku, aku ini kenapa sih? Kok begitu susah bicara ya? Hmm, ternyata aku mengidap penyakit demam panggung. Iri sekali rasanya melihat mereka yang dengan fasihnya mengeluarkan pendapat. Sedangkan aku? Aku juga punya pendapat di setiap pertemuan, aku punya keinginan untuk mengemukakannya. Tapi, kenapa? Kenapa mulut ini selalu terkunci?
Rabb, hanya Engkau yang bisa menolong ku.
Fase ketiga, manajemen waktu yang selalu saja menjadi penghalang untuk bisa menjadi pribadi yang disiplin. Praktik prokastinasti merajalela di tiap waktu ku. Waktu istirahat dipakai bermain, waktu mengerjakan tugas dipakai istirahat. Nyambung dimana? Makanya, aku masih perlu memeras otak untuk bisa me-manage waktu yang sangat sayang jika tidak dimanfaatkan. Duh, bingung!
Rabb, hanya Engkau yang bisa menolong ku.
Fase keempat, pikiran-pikiran lain mulai bertebaran di setiap waktu, pikiran-pikiran selain kuliah, pikiran-pikiran untuk mewujudkan cita-cita yang tertunda (atau mungkin kurang kerjaan). Dilematis pun tak terhindarkan, dilema antara kemampuan dan UKM, antara UKM dan waktu, antara waktu senggang dan kuliah. Duh, benar-benar pusing memikirkannya. Ada kesempatan, tapi mengingat bermacam-macam dilema tersebut, aku masih harus berpikir untuk meraih kesempatan tersebut, sudah dua kali aku menyia-nyiakan kesempatan untuk mewujudkan impian ku, minat ku. Tapi, sepertinya minat dan kemampuan ku saling bertolak belakang. Sudah dua kali kesempatan itu melayang-layang di pikiran ku, bahkan menari-nari di depan mata ku seakan-akan berkata, “ayoo ayoo ikuti aku! Kalau tidak, kau akan menyesal!” dan sepertinya benar apa yang dikatakan kesempatan itu. Sayang sekali. . .
Rabb, hanya Engkau yang bisa menolong ku.
Fase terakhir. Tentang lingkungan ku yang kini berubah. Maksud ku, lingkungan yang mungkin ku habiskan lebih banyak disitu dari lingkungan lainnya. Lingkungan yang setiap Senin sampai Jum’at aku lewati. Perkembangan lingkungan ini sangat menyiksaku sebagai seseorang yang tidak fleksibel. Aku (mungkin) masih lugu, masih seperti anak kecil. Aku ingin mengubah semua itu. Lebih dewasa, lebih bijak, lebih mengerti apa yang sebenarnya aku hadapi saat ini. Sekali lagi. . .
Rabb, hanya Engkau yang bisa menolong ku. Please!
Hari-hari ku dipenuhi masalah-masalah kehidupan seperti di atas. Aku takut masalah-masalah itu akan menambah satu masalah lagi. Masalah yang lebih fatal. Masalah yang lebih besar. Masalah ketika aku jauh dari-Nya dan tidak mendapat perhatian-Nya. Masalah ketika aku sering lupa kepada-Nya. Aku takut. Takut sekali. Di balik problem-problem tadi, Dia selalu saja, selalu saja, dan selalu saja menolongku, menghiburku, dan aku seperti mendapat petunjuk dari-Nya lewat hati. Setiap ku hadapi satu masalah, selalu aku mengharap-Nya, “Rabb, please, bantu hamba. Please! Ku mohon dengan sangat!”. Hati yang galau akan tenang, pikiran yang memuncah juga akan calm down.
Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah, tiada tempat ku berserah diri kecuali kepada Allah