Minggu, 22 Juli 2012

Boneka Panda


Aku ingin cerita tentang boneka panda yang menggemaskan namun malang nasibnya...
Pernah suatu ketika, seorang anak membeli boneka panda yang saaaangat lucu. Putih bulunya bersih, juga sangat halus. Sambil menatap boneka yang sedang tersenyum itu, si anak  bisa merasakan betapa bahagianya  boneka panda itu jika ia jadi miliknya. Dan akhirnya...

Sold!

Terjual!

Kini, boneka itu jadi miliknya. Selama perjalanan pulang, senyum manis tidak pernah pudar dari bibir merahnya. Seperti boneka panda yang tadi dia beli. Mereka bagai sahabat sejati yang tak terpisahkan. Seakan-akan mereka akan bersama setiap detik, setiap menit, setiap waktu.

Hari-hari anak itu terasa sangat menyenangkan. Dia dan boneka panda selalu bermain bersama, bahkan bercerita  kepada si boneka panda. Dan boneka panda sangat setia mendengar dan tersenyum saja kerjanya. Kadang-kadang si anak malah gemas dibuatnya, sehingga dia tak segan mencubit pipinya. Tapi, si boneka panda hanya tersenyum saja.

Hari... terus berganti dari senin... selasa... rabu...

Begitu juga tanggal... Bulan... Tahun... terus berganti dari 1... 2.. dan 3..

Anak itu kini telah menjadi anak yang manis. Dan seorang adik yang tak kalah manisnya. Suatu hari, mereka berkunjung ke sebuah pameran.  Mereka berjalan... berjalan... berjalan... dan Step! Mereka berhenti di sebuah stan boneka. Sang kakak menatap boneka panda yang sangat mirip dengan yang ia beli tempo hari. Namun, boneka ini memegang setangkai bambu kecil di tangan kanannya. Terlihat manis sekali. agaknya ia tertarik untuk membelinya. Boneka panda yang dulu ia beli diserahkan kepada si adik untuk sementara. Hmm, boneka itu terus tersenyum.

Kini, pasangan adik-kakak itu memegang boneka panda masing-masing. Ternyata si kakak membeli boneka tadi. Si adik berkali-kali merengek meminta boneka itu. tapi, si kakak berkata telah memberikan bonekanya yang lama. Si adik setuju. Mereka bergembira. begitu juga boneka panda yang lama. Lagi-lagi dia tetap tersenyum.

Sampai di rumah, kakak itu bermain dengan boneka barunya. Sekian lama bermain, adiknya sadar kalau boneka kakaknya lebih bagus. Dia lalu melempar boneka panda yang telah diberikan oleh kakaknya. Tidak ingin mencari gara-gara, kakak nya berjanji akan membelikan yang baru lagi kepadanya. Sang adik tersenyum puas.

Keesokan hari sepulang sekolah. Sang adik senang nya bukan main, karena kakaknya membelikan boneka barbie yang sangat cantik. Adik tak menolak sekalipun. Kakak terlihat senang melihat adiknya bahagia. Mereka pun kembali berbahagia dengan boneka baru masing-masing.

Ternyata, bukan hanya mereka yang bahagia. Tapi juga boneka panda yang pertama kali dibeli si kakak, boneka yang bertahun-tahun menjadi teman sejatinya, boneka yang sempat dimiliki oleh si adik. Boneka panda itu tak hentinya tersenyum. Tersenyum melihat kakak-beradik bahagia tanpanya. Namun, dimanakah boneka panda itu berada ketika melihat mereka berdua bahagia?

Sebuah jendela besar cukup memperlihatkan kebahagiaan kedua saudara kandung itu dari luar rumah. Tampak, sebuah boneka yang sepertinya sudah tak terurus lagi masih betah duduk di atas penutup tong sampah. Kapuk yang mengisinya seakan terlihat karena telah sobek. Warnanya juga kusam. Yang jelas terlihat hanyalah benang-benang hitam yang menandakan boneka itu sedang tersenyum. Meong! Seekor kucing lalu menggigit telinga boneka itu dan membawanya pergi entah kemana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar