Selasa, 24 Juli 2012

1001 lirik keren ADA!


“ Sendiri aku berbisik tanpa berkawan, tak akan ada yang ku usik, ku terus berjalan, terbelenggu di dalam ruang dan waktu, telusuri jalan yang penuh rintangan, tidakkah kau lihat diriku slalu bertahan, air mata ku yang mengalir mengukir jejak, terbelenggu di dalam ruang dan waktu, telusuri jalan yang penuh rintangan. ”

1000 bayang

“ Karena wanita ingin dimengerti, lewat tutur lembut dan laku agung, karena wanita ingin dimengerti, manjakan dia dengan kasih sayang, bintang terang itulah dirimu, jangan lah redup dan mati. “

Karena wanita (ingin dimengerti)

“ Saat ku coba tegar, hadirmu kembali, ada gerah di sekujur tubuh, lelah tuk berpikir, sakit ku melihatnya, bahwa sejuta maaf, entah dari hati, letakkan janji sekali lagi, di atas sgalanya, adakah ini hanya pelarian tanpa ujung? ”

Akal Sehat

“ Dengar lah oh Tuhan, suara kecewa ku :’( “

Suara Kecewa



“Hadirkan kata dengan perasaan yang tulus dari hatimu.. dirimulah keajaiban...”

Cinta sempurna

“Tiara dirimu... pancaran cahaya mu... payungi galaunya jiwa... penyejuk murka angkara, tak kan pernah pudar, pesona abadi...”
Tiara

“Lirih gemercik hujan, seiring hembusan angin yang membelaiku, menyapa sepi ku, dan hanyutkan rasa ini...”

Segudang Cinta

“Memang tak kan kan semudah dirimu, balikkan talapak tangan, kadang kau pun harus merasakan pahit manisnya dunia..”

Nadia

“Mengapa kau membisu, duhai jelita, kilau bola matamu, tak lagi berpendar paras cantiknya, meredup hilangkan cahaya..”

Bukan Cinta Sempurna

“Angin malam berhembus, lirih dingin menyapa, mencoba merasakan semilir kehadiranmu...”

Nyawa Hidupku

“Sang surya enggan menyapa dunia, bagai hati yang tiada cinta, rentan waktu yang pisahkan kita, membuat hidup ku tak bercahaya, jangan biarakan rasa pergi menghilang..”

Belahan Jiwa

“Bila malam tiba, biaskan kegalauan, tak ingin mata ini, kejapkan barang sejenak, terhanyut imajinasi, menyeret angan ku jauh, kegelisahan yang nampak, hancurkan semua asa... Saat sepi datang, ingin ku hempaskan... tapi, mengapa insan dunia, terasa dingin menyapa, apakah ini jawaban yang menyertaiku?.. bebaskan aku dari jeritan panjang, menata kembali kehidupan... untaian cinta segarkan hati yang beku, serasa tubuh ini terbang di taman surga, yang indah damai...”

Penjara Jiwa

“Mungkin hidup ini hanya pesakitan, meronta mencari-cari sebuah kebenaran... meregang keluar dari raga... melayang pesat bagai elang, menembus mata dunia...”

Lari dari Kenyataan

“Inilah aku dengan nafasku, sedang berdiri, menatap langit malam yang kelu, tak seperti biasa...”

Hati Tunggal

10 Batang Coklat Karamel


Ai.. masih ingatkah waktu aku memanggil mu dari kelas untuk memberikan mu coklat karamel? Semoga kau ingat. Itu salah satu coklat yang diberikannya untukku. Saat itu, kau sangat kaget. Mata mu seakan bertanya, ada apa sih? Hehe kau tampak lucu. Tapi aku hanya tersenyum dan berlalu. Setelah memberi mu sebatang, artinya masih ada 9 coklat karamel. Aku bingung Ai harus memberinya kepada siapa..

Aku teringat 3 sahabat ku lagi yang sangat baik dan usil, ^^V, aku memberinya masing-masing sebatang. Jadinya, aku masih memegang 6 batang lagi. Aku pun membawanya pulang. Kau tahu Ai, di rumah aku memberikan kepada adik dan ibu ku. Mereka mendapat sebatang juga. Karena ayah ku belum pulang kerja, jadinya 4 sisa coklat karamel itu aku yang habiskan.

Ai, coklat karamel itu membuat ku bahagia... karena aku bisa membagikannya kepada orang yang aku sayang... coklat dari seseorang ^^

Coklat karamel...

Sangat manis... daan... lucu ^_^

Minggu, 22 Juli 2012

Boneka Panda


Aku ingin cerita tentang boneka panda yang menggemaskan namun malang nasibnya...
Pernah suatu ketika, seorang anak membeli boneka panda yang saaaangat lucu. Putih bulunya bersih, juga sangat halus. Sambil menatap boneka yang sedang tersenyum itu, si anak  bisa merasakan betapa bahagianya  boneka panda itu jika ia jadi miliknya. Dan akhirnya...

Sold!

Terjual!

Kini, boneka itu jadi miliknya. Selama perjalanan pulang, senyum manis tidak pernah pudar dari bibir merahnya. Seperti boneka panda yang tadi dia beli. Mereka bagai sahabat sejati yang tak terpisahkan. Seakan-akan mereka akan bersama setiap detik, setiap menit, setiap waktu.

Hari-hari anak itu terasa sangat menyenangkan. Dia dan boneka panda selalu bermain bersama, bahkan bercerita  kepada si boneka panda. Dan boneka panda sangat setia mendengar dan tersenyum saja kerjanya. Kadang-kadang si anak malah gemas dibuatnya, sehingga dia tak segan mencubit pipinya. Tapi, si boneka panda hanya tersenyum saja.

Hari... terus berganti dari senin... selasa... rabu...

Begitu juga tanggal... Bulan... Tahun... terus berganti dari 1... 2.. dan 3..

Anak itu kini telah menjadi anak yang manis. Dan seorang adik yang tak kalah manisnya. Suatu hari, mereka berkunjung ke sebuah pameran.  Mereka berjalan... berjalan... berjalan... dan Step! Mereka berhenti di sebuah stan boneka. Sang kakak menatap boneka panda yang sangat mirip dengan yang ia beli tempo hari. Namun, boneka ini memegang setangkai bambu kecil di tangan kanannya. Terlihat manis sekali. agaknya ia tertarik untuk membelinya. Boneka panda yang dulu ia beli diserahkan kepada si adik untuk sementara. Hmm, boneka itu terus tersenyum.

Kini, pasangan adik-kakak itu memegang boneka panda masing-masing. Ternyata si kakak membeli boneka tadi. Si adik berkali-kali merengek meminta boneka itu. tapi, si kakak berkata telah memberikan bonekanya yang lama. Si adik setuju. Mereka bergembira. begitu juga boneka panda yang lama. Lagi-lagi dia tetap tersenyum.

Sampai di rumah, kakak itu bermain dengan boneka barunya. Sekian lama bermain, adiknya sadar kalau boneka kakaknya lebih bagus. Dia lalu melempar boneka panda yang telah diberikan oleh kakaknya. Tidak ingin mencari gara-gara, kakak nya berjanji akan membelikan yang baru lagi kepadanya. Sang adik tersenyum puas.

Keesokan hari sepulang sekolah. Sang adik senang nya bukan main, karena kakaknya membelikan boneka barbie yang sangat cantik. Adik tak menolak sekalipun. Kakak terlihat senang melihat adiknya bahagia. Mereka pun kembali berbahagia dengan boneka baru masing-masing.

Ternyata, bukan hanya mereka yang bahagia. Tapi juga boneka panda yang pertama kali dibeli si kakak, boneka yang bertahun-tahun menjadi teman sejatinya, boneka yang sempat dimiliki oleh si adik. Boneka panda itu tak hentinya tersenyum. Tersenyum melihat kakak-beradik bahagia tanpanya. Namun, dimanakah boneka panda itu berada ketika melihat mereka berdua bahagia?

Sebuah jendela besar cukup memperlihatkan kebahagiaan kedua saudara kandung itu dari luar rumah. Tampak, sebuah boneka yang sepertinya sudah tak terurus lagi masih betah duduk di atas penutup tong sampah. Kapuk yang mengisinya seakan terlihat karena telah sobek. Warnanya juga kusam. Yang jelas terlihat hanyalah benang-benang hitam yang menandakan boneka itu sedang tersenyum. Meong! Seekor kucing lalu menggigit telinga boneka itu dan membawanya pergi entah kemana.

Jumat, 20 Juli 2012

Nyedih Sangat T_T


Dia meleleh lagi. Tanpa izin, tanpa permisi. Dia meleleh sangat deras. Entahlah... 

Banyak hal yang sedang memenuhi otaknya. Banyak sekali. keping-keping masalah itu tak henti mengisi sudut-sudut sel otaknya, lalu keping-keping itu menggumpal menjadi sebatang rasa sakit di dada. Sakit sekali.

Pernahkah kulit mu tersayat pisau yang baru saja diasah? Sakit? Tentu saja. Tapi sakit ini lebih sakit lagi rasanya. Sakit yang disertai rasa sesak. Sembuhnya pun membutuhkan waktu yang tak terbatas waktunya.

Rabu, 18 Juli 2012

Kayak Galau!


Saat ini aku bermimpi. Aku berada di sebuah padang rumput, dikelilingi pohon-pohon sakura yang baru saja bermekaran. Wangi bunga lavender yang sangat khas. Karang-karang dan makhluk laut pun sangat ramah menyapa dalam jernih biru nya laut di samping pepohonan rindang. Indah kan?! Ya, aku melihat sepasang bibir ku menyunggingkan senyum tiada henti. Mata ku berbinar, wajah ku bersemu bagai melihat sang kekasih hati.

Namun...

Hal lain mengganggu mimpi ku. Hujan datang. awan mendung. Langit kelabu. Senyum ku pudar. Kemudian aku hanya tertunduk. Bersedih. Sepasang bibir ku tadi berubah menjadi asin karena setetes embun dari mata ku. Mengapa begini? Pikirku saat itu. aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku hanya bisa duduk terdiam di bawah pohon sambil memeluk lutut dan menyandarkan dahi di lipatan tangan ku. Tertidur. Berharap ini hanyalah mimpi.