Sungguh menyebalkan. Beginilah kalau kebanyakan main, tugas numpuk bikin stres. Tugas ini membuat ku puyeng setengah mati. Aku mesti kembali membuka buku pelajaran SMA ku.
Sementara membuka-buka lembaran buku Fisika, mataku sempat melirik ke sebuah buku berwarna kuning, bertulis ‘Diary 2005’. Aku menatapnya lama, lalu ku raih dengan rasa penasaraan. Apa yang ku tulis dalam buku ini ya? Batin ku.
Lembaran pertama:
Kamis, 11 Agustus 2005. Di sekolah, saya
disuruh membuat buku harian dan mulai saat ini dan di buku ini saya memulai
buku harian ini.
Hati ku tergelitik
membacanya. Ternyata catatan harian ku waktu SMP. Dari sini aku mulai
berkenalan dengan yang namanya diary. Segala yang penting ataupun tidak
penting sama sekali ku tuangkan dalam buku itu dengan rangkaian kata ala anak
SMP. Buku yang manis, dengan spidol warna-warni disana-sini. Stiker-stiker
kartun tak henti menarik perhatian ku. Hingga pada suatu lembaran. Lembaran
yang paling ramai dari sebelumnya. Lebih berwarna, lebih banyak stiker.
Senin, 5 September 2005.
Ya, aku ingat betul hari
itu. Hari dimana aku datang ke masjid dekat rumah ku untuk pengajian. Hari dimana
aku pertama kali melihatnya. Hari dimana aku ingin sekali mengetahui namanya.
Seorang lelaki berperawakan tinggi, tapi tidak terlalu kurus. Aku mengaguminya,
setahu ku itu yang aku pikirkan waktu itu. Pemikiran murni anak SMP yang masih
polos, baru saja tamat SD.
Hari-hari selanjutnya aku
tidak memikirkannya lagi. Benar-benar pemikiran anak kecil yang masih lugu.
Hingga suatu hari aku dipertemukan lagi dalam bulan Ramadhan, masih di tempat
pertama kali aku melihatnya. Aku senang, sampai kadang aku sering tersenyum
sendiri jika melihatnya. Hal ini aku utarakan kepada mereka yang menjadi
sahabat ku. Mereka mendukung ku. Dan aku memanggilnya dengan nama ‘kakak’. Dia
kakak ku. Aku tidak pernah bertegur sapa. Aku tidak pernah berbincang
dengannya. Hanya sekedar bertemu dan saling melihat secara tidak sengaja.
Lembaran-lembaran buku diary
itu aku buka perlahan-lahan.
Rabu, 30 November 2005.
Eh, tau nggak. Hari ini aku dapat kabar gembir tentang kakak. Kabar ini dari
adikku. Sudah 2 bulan aku mencari kabar tentang kakak. Tapi belum dapat-dapat.
Sekarang aku sudah tahu nama kakak siapa. Jadi aku tidak lagi memanggilnya
kakak. Tapi, namanya. Nama kakak yaitu A-R-I-S. Iya, namanya Aris. Cocok kan
sama wajahnya. Sekarang aku bukan panggil dia kakak, tapi Aris, eh, maksud ku
kak Aris. Dia kan lebih tua dari saya. Orang yang lebih tua dari saya akan saya
panggil kak. ha...ha...ha... Kak Aris... Kak Aris...
Aku tersenyum lagi. Dasar aku!
Kak Aris, kira-kira dimana kakak sekarang? Baik-baik kah kakak disana? Aaah,
jika aku mengingat nya lagi, aku merasa kelopak mata ku ingin basah. Ku
lanjutkan membuka-buka kenangan bersama Kak Aris. Pada lembaran berikutnya,
tampak lebih tebal. Ada koran yang ku selipkan disitu. Koran tentang kakak kah?
Hebat kakak masuk koran. Hmm...
Tunggu dulu, berita di koran itu.
Berita yang menampar ku. Berita yang tak pernah bisa aku percaya. Kakak...
pergi. Dia pergi. Dia pergi meninggalkan kenangan. Pergi ke suatu tempat. Dia
akan hilang dari pandangan ku selamanya.
Minggu, 9 Juli 2006.
Ri, malam ini aku sedih. Waktu aku lewat di depan lorong kakak banyak banget
orang. Trus aku nanya sama orang disitu. Katanya ada yang kecelakaan. Untuk
memastikan, aku nanya dia tinggal dimana? Orang itu nunjuk rumah kakak. Aah,
masa kakak, aku gak percaya. Samar-samar aku dengar pembicaraan orang-orang
disitu. Benar, dia kakak. Aku mulai agak yakin. Masa sih? Aku rada-rada nggak
percaya yah. Tau ah. Aku juga belum yakin. Hahaha... tenang aja. eh, eh, aku
nonton ADA band lagi lho. Si Donnie tuh penampilannya keren abis. Trus tambah
cute dia. Lihat Donnie, aku jadi ingat kakak. Hmm, bagaimana kalo berita itu
benar?
Yang benar saja. Koran itu adalah
bukti. Aku sudah tahu alasan mengapa aku menempel koran tepat hari itu. supaya
aku tidak ragu lagi. Supaya aku hanya bisa mengenangnya dan melanjutkan apa
yang seharusnya tidak terhenti disini. kisah ku, bersamanya, harus terhenti
disini. tapi aku harus melanjutkan kisah ini, dengan orang-orang baru. Dengan
mereka. Mereka yang hadir bergantian, pergi brgantian. Tapi yang terakhir ini,
aku tidak pernah berharap dia terganti, aku tidak pernah berharap dia juga
menghilang tanpa jejak. Aku ingin dia menjadi penutup kisah ini. Pelengkap
kisah yang tak sempurna ini.
Aku menyimpan kembali buku kuning
penuh kenangan itu di tempat semula. Agak tersembunyi dari yang tadi, takut
terlihat sewaktu-waktu dan aku berani membukanya dan terjebak lagi bersama
bayangan yang telah ada disana.
Buku Fisika yang sedari tadi ku
cari akhirnya ku temukan juga. Aku menuju meja belajar dan sesaat aku sudah
terhanyut dalam soal-soal yang tak henti membuat ku garuk-garuk kepala.
Bingung.